Friday, December 8, 2017

Hua Mulan, Penjaga Harapan Bangsa Cina

Hua Mulan adalah salah seorang perempuan yang dianggap paling legendaris bagi bangsa Cina. Riwayatnya diabadikan ke dalam sebuah puisi berjudul "mu lan ci yi ming", yang dalam bahasa Indonesianya disebut "Balada Mulan" atau "Ode untuk Mulan". Penulisnya belum diketahui hingga kini, maka dari itu puisi tersebut berlabel "anonim".

Temuan arkeologis memang belum didapatkan untuk membuktikan bahwa ia adalah orang yang benar-benar pernah ada, namun riwayat mengenai tindakan-tindakannya yang heroik diceriterakan di dalam naskah-naskah kuno. Bahkan, Balada Mulan diajarkan pula dalam pendidikan formal di sekolah. 

Di dalam bahasa Cina "hua" berarti "bunga", sedangkan "mulan" berarti "magnolia". Bunga magnolia menjadi salah satu lambang penting bagi bangsa Cina pada masa lalu. Akan tetapi, terdapat informasi yang berbeda tentang asal-muasal Mulan; dikatakan bahwa garis keluarga tokoh legenda tersebut tidak jelas. Di dalam naskah History of the Ming, nama keluarga Mulan adalah Zhu, sedangkan menurut History of the Qing, Mulan memiliki nama keluarga Wei. Satu-satunya informasi yang dapat dipercaya ialah bahwa riwayat Mulan berhubungan dengan sejarah Cina dari abad ke-4 hingga abad ke-5 Masehi.

Sumber awal dari riwayat Mulan berasal dari sebuah lagu rakyat pada masa Dinasti Wei Utara (386-557 M). Transkripsi pertama yang diketahui tentang Balada Mulan berasal dari abad ke-6. Namun sayangnya, karya aslinya tidak lagi ditemukan dan naskah dari puisi yang masih tersisa berasal dari karya lain, yakni Music Bureau Collection. Karya tersebut berupa antologi syair, lagu, dan puisi yang disusun oleh Guo Maoqian antara abad ke-11 dan abad ke-12. Secara terang-terangan Guo menyatakan bahwa "Musical Records of Old and New" menjadi sumber puisi yang dibuatnya mengenai Mulan.

Sumber keberadaan Mulan lebih lanjut berasal dari riwayat pada masa Dinasti Ming akhir. Pada tahun 1593, seorang dramawan bernama Xu Wei membuat sebuah drama legenda "The Female Mulan" atau "The Heroine Mulan Goes to War in Her Father's Place". Drama ini terdiri atas dua babak. Versi-versi terkini mengenai Mulan terdapat di dalam Sui-Tang Romance, sebuah novel sejarah karya Chu Renhuo yang disusun pada abad ke-17. 

Sinopsis Balada Mulan

Balada Mulan terdiri atas 31 couplet dan sebagian besar tersusun ke dalam frase lima karakter. Legenda Mulan telah ditulis dalam berbagai variasi, namun alur ceritanya tetaplah sama: Mulan tengah mencuci pakaian pada saat ia mendengar bahwa tentara sedang melakukan perekrutan tentara barru. Guna membantu ayahnya, Huan Hu, yang telah berusia tua, ia memutuskan untuk mendaftar sebagai pengganti sang ayah. 

Mulan menyamar sebagai laki-laki dan mengaku sebagai anak laki-laki dari Huan Hu. 


Ceritera berlanjut dengan keberangkatan Mulan ke medan pertempuran dengan membawa senjata yang diwariskan oleh nenek moyang keluarganya. Ia bertempur selama 10-12 tahun dan memperoleh penghargaan tinggi, namun menolak untuk menerimanya dan memilih untuk pulang ke kampung halaman. Selama berlangsungnya pemerangan, Mulan bertemu seorang pejabat bernama Jin Yong dan menjalin asmara dengannya.

Selama menjalani karir militernya Mulan mencapai pangkat jenderal. Pada saat Jin Yong mengetahui bahwa Mulan adalah seorang perempuan, ia menjadi semakin dekat. Dalam banyak versi ceritera, baik Mulan maupun Jin Yong mengimpikan sebuah pernikahan. Lambat laun, ternyata terdapat sejumlah pasukan lain yang mengetahui jatidiri Mulan. 

Suatu hari, pada saat menghadapi pertempuran yang sengit, Mulan memutuskan untuk bertempur dengan mengenakan pakaian perempuan sehingga semua orang mengetahui identitas aslinya. Mereka merasa terkesan dan memberikan pujian. Para pasukan tergerak dan terinsipirasi oleh keberanian, keagungan, dan kebijaksanaan yang ditunjukkan oleh Mulan. Bekal semangat tersebut membawa pasukannya untuk memenangkan pertempuran. 

Prestasi yang gemilang di dalam pertempuran tidak memberikan akhir yang bahagia bagi Mulan. Meninggalnya ayah tercinta membuat Mulan kehilangan cinta terbesar di dalam hidupnya. Ia mulai dihantui oleh pengalaman-pengalaman di medan pertempuran. Mulan merasa kesepian dan akhirnya, demikian penuturan cerita legenda tersebut, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. 

Referensi:
The Ballad of Hua Mulan: The Legendary Warrior Woman Who Brought Hope to China. (2016). Ancient Origins. Retrieved 8 December 2017, from http://www.ancient-origins.net/history-famous-people/ballad-hua-mulan-legendary-warrior-woman-who-brought-hope-china-005084

Share:

Tuesday, December 5, 2017

Tradisi Tahun Baru

Malam tahun baru telah sekian lama dirayakan oleh masyarakat Indonesia dengan acara yang khusus, antara lain berkumpul dengan kawan, tetangga, dan keluarga, mengadakan acara begadang (melekan, dalam bahasa Jawa), melakukan ritus hitung mundur (countdown) dilengkapi dengan penyalaan kembang api, dan resolusi. Indonesia tergolong unik dalam konteks perayaan tahun baru karena negara ini memiliki 3 (tiga) wilayah waktu, yakni WIT (Waktu Indonesia Timur), WITA (Waktu Indonesia Tengah), dan WIB (Waktu Indonesia Barat), sehingga di dalam satu malam masyarakat merayakan pergantian tahun sebanyak 3 (tiga) kali. Tahun baru yang dirayakan ialah tahun berdasarkan kalender Gregorian, atau kemudian dalam perkembangannya kita sebut sebagai kalender Masehi yang pada awalnya ditandai oleh kelahiran Isa al-Masih (Yesus Kristus). 

Pada awal pemberlakuannya satu tahun kalender Romawi terdiri atas 10 bulan (304 hari). Tahun baru pada masa tersebut diawali pada "vernal equinox", sebuah kondisi pada saat belahan bumi Utara mulai bergeser menuju ke arah matahari, yang berarti menandakan datangnya hari di mana siang hari menjadi lebih lama karena matahari bersinar lebih lama di kawasan tersebut. Kalender ini diperkenalkan oleh Romulus, pendiri kota Roma, pada abad ke-8 Sebelum Masehi. Raja Romawi selanjutnya, Numa Pompiius, menambahkan Januarius dan Februarius pada kalender sehingga satu tahun terdiri atas 12 bulan. 

Selama berabad-abad kalender ini ternyata tidak sejalan dengan perputaran matahari. Memasuki tahun 46 SM Kaisar Julius Caesar berusaha mengatasi masalah ketidaksesuaian tersebut dengan berkonsultasi dengan para ahli astronomi dan ahli matematika terpercaya pada masa itu. Akhirnya JC memperkenalkan kalender Julian yang hampir mirip dengan kalender Gregorian yang berlaku sekarang. Pada saat itulah tahun baru ditetapkan pada tanggal 1 Januari. Pemilihan tanggal tersebut dilakukan untuk penghormatan Janus yang dipercayai sebagai dewa cikal-bakal bangsa Romawi. Janus memiliki dua muka (depan dan belakang), sehingga memiliki pandangan ke masa lalu dan ke masa depan. Bangsa Romawi merayakan setiap pergantian tahun dengan memberikan persembahan kepada Janus, saling bertukar hadiah kepada sesama warga, menghias rumah dengan ranting laurel dan menghadiri pesta-pesta yang sangat meriah. 

Pada saat Eropa memasuki abad Pertengahan para pemuka agama Kristen sempat mengganti tanggal 1 Januari sebagai hari pertama tahun baru dengan hari-hari yang mereka anggap lebih religius, misalnya tanggal 25 Desember (kelahiran Yesus) dan 25 Maret (Festum incarnationis). Tradisi Katolik menyatakan bahwa Festum incarnationis merupakan hari penting untuk memperingati pemberitahuan Malaikat Gabriel (Jibril) kepada Mary (Mariam) bahwa dirinya akan hamil dan kemudian melahirkan seorang bayi yang kelak bernama Yesus. Namun, pada saat tahun baru 1582 Paus Gregorius XIII mengembalikan tradisi 1 Januari.  

Tradisi penyambutan tahun baru antara satu negara dan yang lainnya berbeda-beda. Di Kuba, Austria, Hungaria, dan Portugal perayaan malam tahun baru ditandai dengan hidangan babi. Mereka mempercayai bahwa babi merupakan simbol kemakmuran dan kemajuan. Di Belanda, Meksiko, dan Yunani malam tahun baru ditandai dengan kue dan pastri berbentuk lingkaran. Bentuk lingkaran melambangkan bahwa mereka telah berhasil menjalani satu tahun penuh. Di Swedia dan Norwegia hidangan khas malam tahun baru adalah puding beras dengan sebiji almond yang tersembunyi di dalam puding tersebut. Siapapun yang menemukan almond tersebut dapat berharap keberuntungan di dalam waktu 12 bulan mendatang. Malam tahun baru di banyak negara yang berbahasa Inggris dirayakan dengan menyalakan kembang api dan  menyanyikan lagu-lagu yang bertema menyambut tahun yang baru, antara lain lagu yang hingga saat ini masih populer, "Auld Lang Syne". 

Masyarakat kekinian di Indonesia sering membuat resolusi pada saat menyambut tahun yang baru. Ternyata tradisi pengungkapan resolusi telah berlangsung lama, yakni semenjak jaman Babylonia. Orang Babylonia membuat janji-janji guna mendapatkan kemudahan dari para dewa dan mengawali tahun yang baru dengan langkah yang ringan. Di antara janji-janji tersebut, mereka bertekad untuk mengembalikan hutang dan mengembalikan peralatan pertanian yang mereka pinjam dari pihak lain. 

Tradisi malam tahun baru di Amerika Serikat ialah menjatuhkan sebuah bola raksasa berdiameter 12 feet dan berbobot 12.000 pound di Time Square, New York pada saat jarum jam menunjuk angka 12. Tradisi tersebut dimulai pada tahun 1907. Di negara Albania, tanggal 1 Januari, selain sebagai awal tahun baru Masehi, sekaligus merupakan awal tahun baru tradisional mereka, terutama oleh keturunan bangsa Persia yang berada di sana, yakni Norouz, yang menganut agama Zoroastrian. Di Aljazair, tahun baru dirayakan dengan menjalankan tradisi yang disebut Yennayer. Masyarakat di negara tersebut menuangkan harapan kesejahteraan, kemakmuran, kesehatan, dan kekayaan. Mereka menghias rumah dengan tanaman hijau, ranting pohon zaitun, palem, tak lupa pula kacang locust, adas dan rosmarin, digantung di bagian teras. 

Tradisi menarik dilakukan oleh masyarakat Argentina. Pada malam tahun baru mereka berjalan mengelilingi rumah dengan membawa tas. Ritus ini dilakukan sebagai perlambang bahwa mereka akan menjalani kehidupan satu tahun mendatang. Selain itu, orang-orang di negara tersebut memakan kacang untuk keberhasilan di dalam pekerjaan dan atau mempermudah lapangan pekerjaan yang baru. 

Beralih ke Austria, masyarakat di negara tersebut sering mengadakan perayaan besar-besaran. Mereka menjalankan tradisi Imperial Ball (Le Grand Bal), sebuah kebiasaan yang telah dilakukan sejak dinasti Hapsburg ratusan tahun yang silam. Orang-orang mengenakan gaun berwarna putih (untuk perempuan) dan jas berwarna hitam (untuk laki-laki). Pada tengah malam menjelang pergantian tahun masyarakat berkumpul nikmati hiburan klasik karya-karya Johann Strauss II, orkestra "An der schonen blauen Donau" dan operet "Die Fleermaus". 


Referensi:
(2017). New Year’s - Holidays - HISTORY.com. HISTORY.com. Diakses 5 Desember 2017, dari http://www.history.com/topics/holidays/new-years.
Capo A.L. (2013). Traditions/Superstitions from around the world!: To bring in the New Year!. Indiana, United States: AuthorHouse.
Miller L.B. (2013). New Year's Customs, Traditions and Superstitious from Around the World. 
Vienna Imperial Ball, Emperor's Ball, Vienna, Austria. (2017). Valhol.com. Diakses 5 December 2017, dari http://www.valhol.com/specialinterest/Vienna_Imperial_ball.asp.

Share:

Saturday, December 2, 2017

Kronologi minyak bumi (petroleum)

Minyak bumi telah menjadi salah satu komoditi yang menjadi incaran banyak bangsa. Banyak hal yang berhubungan dengan minyak bumi menyebabkan timbulnya dinamika masyarakat di berbagai tempat di seluruh dunia. Di negara Indonesia, dari waktu ke waktu kenaikan harga bahan bakar minyak hampir senantiasa menyebabkan kekacauan, pun meskin bukan berupa kekacauan fisik, akan tetapi membuat masyarakat terkacaukan pikirannya. Dalam sebuah video yang pernah saya saksikan dari saluran Youtube, narator mengatakan bahwa penemuan minyak bumi mengalahkan penemuan zat-zat berharga sebelumnya, seperti permata, emas, atau perak. Minyak bumi membawa dunia menuju babak baru yang lebih baik karena manfaatnya sebagai obat dan sumber energi; minyak bumi juga seringkali menyebabkan kesengsaraan akibat pertikaian untuk memperebutkannya.

Sumber: worldoil.com (2017).
Usaha manusia untuk mencari, menggali, mengolah dan memanfaatkan minyak bumi telah dilakukan semenjak zaman Kerajaan Babilonia, sekitar 2400 tahun yang lalu. Sejumlah tokoh ikonik sepanjang zaman ikut terlibat secara kronologis, baik secara langsung maupun tidak langsung, di dalam perkembangan minyak bumi menjadi sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, seperti Herodotus, Alexander the Great, dan Marco Polo.

Berikut ini adalah sejumlah momentum penting yang menandai perkembangan minyak bumi semenjak periode sebelum masehi hingga era kekinian.

(a) Periode Sebelum Masehi:

Pada tahun 450 sejarawan kenamaan Yunani, Herodotus, menceritakan adanya lubang-lubang yang dari dalamnya keluar minyak di dekat Babylon. Pada tahun 325 Alexander the Great memanfaatkan minyak petroleum untuk menyalakan obor dan menakut-nakuti pasukan musuh.

(b) Periode Setelah Masehi:

Riwayat mengenai keberadaan minyak bumi pada periode ini pertama kali diceritakan oleh Lucius Plutarchus, seorang pakar geografi dan penulis esai Yunani, pada tahun 100. Melalui karyanya ia menggambarkan gelembung minyak yang muncul dari tanah di daerah dekat Kirkuk (sekarang berada di wilayah negara Irak). Setelah lebih dari dua abad tidak terdengar berita tentang minyak bumi, pada tahun 347 bangsa Cina melaporkan kepada dunia bahwa mereka telah mengebor lubang-lubang di tanah dengan menggunakan bambu untuk mengekstraksi minyak. Lima abad berselang orang-orang di daerah Baku ditengarai memanfaatkan tanah yang mengandung minyak di dalamnya untuk pemanasan karena mereka kekurangan kayu. Memasuki abad XII diberitakan bahwa orang-orang di Naftalan (Azerbaijan) memanfaatkan minyak bumi untuk menanggulangi berbagai jenis gangguan kesehatan. Pada waktu yang relatif bersamaan Marco Polo, di dalam catatannya pada saat berada di Baku (yang pada waktu itu menjadi bagian dari Persia), mengunjungi pantai Laut Caspia. Di sana ia menyaksikan penduduk setempat menyadap minyak untuk digunakan sebagai obat dan bahan bakar lampu penerangan. Pemanfaatan minyak bumi sebagai bahan bakar lampu juga diberitakan pada sekitar tahun 1500 di Krosno (Polandia). Minyak tersebut merupakan hasil sadapan dari Pegunungan Carpathia.

Penelitian ilmiah pertama kali tentang minyak bumi dilakukan pada tahun 1836 oleh G. I. Gessi di Semenanjung Absheron. Gessi berpedoman pada pernyataan Marshal von Frederick Bibershtein pada tahun 1793 bahwa "Semenanjung Absheron mengandung cadangan minyak yang tidak pernah habis". Di dalam penelitian tersebut Gessi menguraikan tentang komposisi bahan pembentuk minyak bumi. Selanjutnya, beralih ke Amerika, minyak bumi hasil pengeboran sumur-sumur minyak untuk pertama kali dijadikan komoditi yang diperdagangkan. Minyak tersebut berasal dari pengeboran di Marietta, Ohio. Pada awalnya tindakan pengeboran tersebut adalah untuk mendapatkan air garam dan jika minyak yang tercampur di dalamnya dianggap tidak berguna. Sumur minyak Ohio memiliki kedalaman sekitar 150 meterdan menghasilkan kurang-lebih 1 barrel tiap pekannya. Harga tiap gallon pada waktu itu adalah 50-75 sen.

Perkembangan selanjutnya ditandai dengan, antaralain, beroperasinya perusahaan Gas Light Company di Baltimore pada tahun 1816; produksi gas alam komersial pertama di Fredonia, New York, pada tahun 1825; pengiriman pertama minyak antarnegara dari Pennsylvania (Amerika Serikat) ke London (Inggris) pada tahun 1861; pendirian perusahaan pengilangan minyak oleh Rockefeller di Cleveland pada tahun 1863; pendirian perusahaan Standard Oil di Ohio pada tahun 1870, juga oleh Rockefeller; pengeboran pertama minyak bumi di Amerika Selatan, yakni di Danau Maracaibo, Venezuela; penggabungan perusahaan Shell (Inggris) dengan Royal Dutch (Belanda) menjadi Royal Dutch Shell pada tahun 1907; pemberian konsesi minyak kepada Standard of California oleh Arab Saudi, terbentuklah California Arabian Standard Oil Company (Casoc) pada tahun 1933, yang kemudian berubah nama sebelas tahun berselang menjadi Arabian American Oil Company (Aramco); Nasionalisasi aset minyak oleh negara-negara anggota OPEC dan nasionalisasi konsesi British Petroleum oleh Libya pada tahun 1971; Nasionalisasi Iraq Petroleum Concession oleh Irak pada tahun 1972; Nasionalisasi industri minyak Venezuela pada tahun 1975; dan akuisisi Chevron terhadap Gulf Oil setelah memenangkan persaingan dengan Arco.

Demikian kronologi perkembangan minyak bumi dari masa kemasa menurut geohelp.net di dalam artikelnya yang berjudul "History of the World Petroleum Industry (Key Dates)".

Referensi:
(2017). Worldoil.com. Diakses pada tanggal 2 Desember 2017, dari http://www.worldoil.com/media/6943/carrizo-pumpjacks.jpg
World History of Oil and Gas. (2017). Geohelp.net. Diakses pada tanggal 2 Desember 2017, dari http://www.geohelp.net/world.html
Share:

Thursday, November 30, 2017

Benteng Leonine melindungi Vatikan dari Saracen

Gambar. Porta Santo Spirito pada Benteng Leonine (Temple, 2011: 132)
Pada kesempatan ini kita akan mengenal lebih dekat tempat sekitar kediaman pemimpin tertinggi umat Katolik, yakni Vatikan (Holy Sea). Pembahasan kita adalah mengenai Benteng Leonine. Bangunan yang masih terdapat sisanya pada masa sekarang ini berdiri sejak masa kepemimpinan Paus Leo IV, yakni pada tahun 847. Benteng Leonine dibangun dengan maksud untuk melindungi wilayah Vatikan dan makam Santo Petrus dari ancaman serangan orang Saracen yang sempat menyerbu kota Roma.

Berdasarkan peninggalan yang masih tersisa, Benteng Leonine yang tinggi menjulang dibangun dengan bahan dasar beton dan batu bata. Meskipun pada masa terjadinya kekacauan para paus tinggal di Istana Lateran, namun ada kalanya mereka berlindung di dekat Basilika Santo Petrus.

Pada abad ke-15, Benteng Leonine diperkuat dengan sejumlah menara pertahanan berbentuk bundar, namun hanya dua menara yang tersisa utuh. Salah satu dari menara itu didekdikasikan untuk Santo Yohanes, yang menjadi tempat retret kesukaan Paus Yohanes XIII (1958-1963). Sekarang menara itu menyediakan penginapan bagi para tamu penting Vatikan. Menara yang kedua -- yang menjadi lokasi Observatorium Vatikan sejak tahun 1919 sampai 1933 -- sekarang menjadi bagian dari Radio Vatikan dan kemudian diberi nama Menara Radio. Radio Vatikan, yang didirikan oleh Guglielmo Marconi, awalnya ditempatkan di dekat palazzino Leo XIII.

Kedua menara tersebut sangat tebal dan memiliki jendela pengintai bagi petugas penjaga. Melalui jendela tersebut, mereka dapat memiliki pandangan baik untuk mengawasi dataran yang lebih rendah di sekitar Sungai Tiber. Sepanjang abad pertengahan, menara-menara seperti itu dibangun di seluruh Roma oleh para keluarga aristokrat. Menara-menara di Vatikan adalah contoh sejenis yang dipelihara dengan baik.

Benteng Leonine menjadi tidak berfungsi lagi setelah pendirian benteng tambahan pada abad ke-16. Benteng tambahan inilah masih berdiri kokoh mengitari Vatikan hingga saat ini.

Referensi:

Collins, Michael (2011). The Vatican: Secrets and Treasures of the Holy City. London, Great Britain: Dorling Kinderley Limited. pp. 116-117.
Temple, Nicholas (2011). Renovation Urbis: Architecture, Urbanism and Ceremony in the Rome of Julius II. New York, United States: Routledge. pp. 132.

Share:

Hermann Hesse

Hermann Hesse adalah seorang sastrawan berkebangsaan Jerman yang hidup pada dua masa perang, yakni Perang Besar (1914-1918) dan Perang Dunia (1938-1945). Spesialisasi Hesse di dalam dunia sastra adalah prosa dan puisi. Ia mendapatkan penghargaan Nobel bidang Sastra pada tahun 1946.

Pendekatan sastra Hermann Hesse adalah dualitas antara jiwa dan alam serta pencarian spiritual individu di luar batasan masyarakat. Karya-karya Hesse dalam bentuk novel menggambarkan tokoh utama yang melakukan perjalanan ke dalam dirinya sendiri.

Hesse terlahir sebagai anak seorang pengusaha penerbitan di Calw, Black Forest, negara bagian Wuerttemberg. Kedua orang tuanya adalah penganut Protestan yang taat dan menjadi misionaris di negara India.  Latar belakang religius ini memberikan pengaruh yang kuat bagi Hesse. Ia masuk ke sekolah seminari Protestan di Maulbronn pada tahun 1891. Namun, keberadaannya di sekolah seminari tersebut tidak bertahan lama. Selanjutnya Hesse berpindah ke sekolah sekuler, akan tetapi di sanapun ia tidak menuntaskan pendidikannya.

Setelah keluar dari sekolah Hermann Hesse memutuskan untuk bekerja. Ia akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai kasir pada sebuah toko buku di Tuebingen. Meskipun memiliki pekerjaan sampingan menjadi mekanik, Hesse lebih mendekatkan diri pada dunia buku. Di Tuebingen Herman Hesse bergabung ke dalam sebuah perkumpulan bernama Le Petit Cenacle. Pada masa itulah ia memutuskan untuk lebih serius menekuni profesi sebagai seorang penulis.

Pada tahun 1899 Hesse akhirnya berhasil menerbitkan dua karya, yakni Romantische Lieder dan Eine Stunde Hinter Mitternacht. Lima tahun berselang, yakni pada tahun 1904, Hesse kembali menerbitkan karyanya berupa novel yang berjudul Peter Cemenzind. Novel tersebut mendapatkan sambutan yang luar biasa. Inspirasi dari kunjungannya di India pada tahun 1911 dituangkan ke dalam sebuah novel berjudul Siddhartha, yang terbit pada tahun 1922. Novel tersebut berangkat dari awal kehidupan Pangeran Siddartha Gautama.

Pada masa terjadinya Perang Besar (1914-1918) Hesse tinggal di negara Swiss. Ia menjadi seorang tokoh yang kritis terhadap militerisme dan nasionalisme.

Salah satu karya puisi Hermann Hesse dapat dibaca pada tautan berikut ini: Elisabeth.

Referensi:
Hermann Hesse. Diakses dari http://www.firstworldwar.com/poetsandprose/hesse.htm, pada tanggal 24 November 2017.
Share:

Wednesday, November 15, 2017

Charlemagne, Inspirasi Pemimpin Besar Eropa

Charles the Great (Charlemagne) adalah Raja Frank sejak tahun 768, Raja Lombardi sejak tahun 774, dan Kaisar Romawi sejak tahun 800 (Becher, 2005: 96). Menurut Becher (1992: 37-60) ia lahir pada tanggal 2 April tahun 742. Charles, demikian namanya, merupakan anak dari Pepin the Short dan Bertrada of Laon (Barbero, 2004: 12).

Charlemagne dapat dikatakan sebagai orang pertama yang menjadi Kaisar Jerman. Bergelar Charles I (Karls I), ia bertahta pada Abad Pertengahan dan mengawali unifikasi Jerman yang kemudian diteladani oleh Otto von Bismarck (Beyens, 1916: 192). Oxford Dictionary menyebutkan Charlemagne sebagai "pelopor kerajaan di Eropa Barat. Ia mulai bertakhta pada tahun 800 atas Romawi didukung oleh kepausan abad pertengahan sebagai salah satu usaha mendirikan sebuah kerajaan Kristen di bawah kekuasaan tunggal." (Macdonald, 2015: 9). Lebih lanjut, Macdonald (2015: 58) mengutip pernyataan Otto von Habsburg mengenai pengaruh dan warisan dari Charlemagne bagi Kekaisaran Romawi Suci, sebagai berikut:

"We do possess a European symbol which belongs to all nations equally. This is the crown of the Holy Roman Empire, which embodies the tradition of Charlemagne."

Para pendiri Uni Eropa (EU) dan banyak pemimpin Eropa pada era kekinian juga menakui bahwa tujuan puncak dari Uni Eropa ialah hidup "dengan warisan Kekaisaran Romawi Suci". Para politisi Eropa berulang kali menyerukan pujian mereka bagi Charlemagne dan secara terang-terangan mengakui bahwa mereka tengah berusaha untuk menciptakan sebuah Eropa bersatu yang "melekat pada tradisi Charlemagne." (Macdonald, 2015: 9).

Charlemagne menduduki tahta kerajaan Frank dan membawanya ke puncak kejayaan. Sebelum era Charlemagne, peta politik di benua Eropa terpecah-pecah. Jerman sendiri terbagi oleh banyak suku yang berlainan. Charlemagne yang memiliki hubungan dekat dengan kepausan melakukan perubahan besar dengan melakukan ekspansi dengan tujuan menyatukan bagian-bagian tersebut. Usahanya tentu saja diwarnai dengan pertumpahan darah. Charlemagne berkeyakinan bahwa ekspansi yang dilakukannya ialah untuk membela gereja. Pada tahun 774, atas permintaan dari Paus Leo III, ia bergerak ke bagian utara Italia untuk penaklukan kerajaan Lombard, kemudian membuat sejarah dengan menyatukan Italia untuk pertama kalinya di dalam beberapa abad. Pada tahun 799, sekali lagi Charlemagne mendapatkan dukunga dari paus, yang sebelumnya menjadi korban tindak kekerasan dan dimasukkan ke dalam penjara oleh konspirasi sejumlah orang. Charlemagne akhirnya mendapatkan balasan setimpal dari paus. Bertempat di Gereja St. Peters, Charlemagne  dilantik oleh paus sebagai "Kaisar ke-73 Kekaisaran Dunia Keempat" (Flurry et al., 2013).

Di dalam artikel "Wars of Charlemagne" (Wars and Warfare, 12 November 2017) disebutkan bahwa pada masa kekuasaanya (768-814) Charlemagne menjalani 54 aksi  militer. Usaha ekspansi dilakukan hingga mencapai kerajaan Frank. Pencapaian militer dan politik yang diraih oleh Charlemagne dinilai sebagai kunci baginya untuk mendapatkan gelar "raja Romawi Suci (emperor of the Holy Romans)" dari kepausan. Pemberian gelar tersebut dilakukan pada Hari Natal tahun 800. 

Komposisi dan peralatan/persenjataan yang dimiliki oleh tentara milik Charlemagne mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu. Pada awalnya, Tentara Carolingian didominasi oleh pasikan infanteri. Mendekati masa peperangan, di mana tentara harus semakin menjauh dari markas besarnya di Austrasia, Charlemagne menambah kekuatan dengan membentuk pasikan kavaleri. Periode 792-793 ditandai dengan ditetapkannya regulasi yang mewajibkan vassal-vassal untuk memiliki kuda, perisai (tameng), tombak, pedang, pisau/belati, busur panah, quiver, dan anak panah. 

Meskipun ekspansi dilakukan ke berbagai penjuru di wilayah Eropa, Charlemagne lebih berhasil melancarkan serangan ke Timur (arah Jerman). Pada tahun 787 ia menduduki Bavaria. Pendudukan atas Jerman berlanjut hingga ke wilayah Frisia dan Saxon di bagian Utara antara Sungai Rhine dan Sungai Elbe. Berkenaan dengan Saxon, daerah ini menjadi lawan yang paling sulit bagi Charlemagne. Ia memerlukan waktu 30 tahun untuk menaklukannya. Total, Charlemagne menjalani 18 kali pertempuran menghadapi Saxon.

Kunci keberhasilan militer Charlemagne yang dapat dijadikan inspirasi bagi militer-militer lain setelah era itu adalah penekanannya pada satuan kavaleri sebagai instrumen bagi mobilitas strategis. Kavaleri pada waktu itu, meskipun didukung oleh pasukan tombak yang jumlahnya terbatas, Charlemagne bersikap konsisten dengan strateginya dan taktiknya pada saat menjalani pertempuran dengan tidak melakukan perubahan berarti. 

Charlemagne memberikan inspirasi yang kuat bagi sejumlah pemimpin besar di Eropa pada era setelahnya. Bahkan setelah ratusan tahun ia meninggal, kehidupan dan kinerja yang dijalani oleh Charlemagne tetap bertahan sebagai tolok ukur. Mahkota Kekaisaran Romawi Suci, yang diprakarsai oleh Otto the Great pada akhir abad ke-10, dinamakan sebagai Mahkota Charlemagne (Crown of Charlemagne). Napoleon dianggap sebagai "kelahiran kembali Charlemagne". Adolf Hitler juga sangat terpengaruh oleh visi Eropa yang dimiliki oleh Charlemagne. Third Reich bahkan membangun sebuah gedung yang ia namakan sebagai Kehlsteinhaus (Sarang Elang) di puncak Kehlstein, yang menurut cerita legenda menjadi tempat persemayaman sementara bagi Charlemagne (Macdonald, 2015: 58-59), untuk kemudian bangkit kembali pada suatu masa.

Referensi:

Barbero A. (2004). Charlemagne: Father of a Continent. California, United States: University of California Press.
Becher M. (1992). Neue Ueberlegungen zum Geburstdatum Karls des Grossen. In: Francia 19/1, 1992, pp. 37-60.
Becher, M. (2005). Charlemagne. Connecticut, United States: Yale University Press.
Beyens B. (1916). Germany Before the War. London, Great Britain: Thomas Nelson and Sons, Ltd.
Flurry G., Flurry S., Thompson J. (2013). Germany: and the Holy Roman Empire. Philadelphia, United States: Philadelphia Church of God.
Macdonald B. (2015). The Holy Roman Empire in Prophecy. Philadelphia, United States: Philadelphia Church of God.
Wars of Charlemagne. Weapons and Warfare, 12 November 2017. Diakses pada tanggal 13 November 2017 dari https://weaponsandwarfare.com/2017/11/12/wars-of-charlemagne/?wref=tp
Share:

Friday, May 26, 2017

Invasi Tyre Oleh Alexander the Great

Tyre pada masa itu menjadi kota penting, bukan hanya bagi Phoenicia, melainkan pula bagi dunia, khususnya di dalam kegiatan maritim. Alexander membaca situasi bahwa jika kota ini dapat direbut maka misinya untuk menduduki Mesir dan Babylonia akan terlaksana. Para duta besar Tyre mencoba bernegosiasi agar kota tersebut bebas dari kekuasaan pihak manapun. Namun Alexander sepertinya tidak sependapat.
Referensi:
Patrick S. 2013. Alexander the Great: The Macedonian Who Conquered the World.
Share:

Tuesday, May 16, 2017

Lensa Kontak

Lensa kontak telah digagas sejak awal abad ke-16 oleh Leonardo Da Vinci. Pada tahun 1508 Da Vinci mengutarakan sebuah konsep mengenai lensa kontak. Ia berpendapat bahwa optik dari mata manusia dapat dirubah dengan kontak mata langsung dengan air. Setelah hampir tiga abad tidak terjadi perkembangan berarti, lensa kontak dibicarakan kembali oleh John Herschel pada tahun 1823. Herschel memperkenalkan konsep tentang model cetakan dari
mata manusia. Model cetakan tersebut akan mempermudah produksi lensa yang sesuai jika dipasang pada permukaan mata bagian
depan. Akan tetapi, realisasi dari pemikiran Herschel baru dilakukan 50 tahun kemudian oleh F. A. Muller. Dengan mempergunakan gagasan Herschel, ia merancang lensa kontak pertama kali pada tahun 1887 dengan temuan lensa kontak yang terbuat dari bahan kaca yang berukuran selebar mata, sehingga jika dipasang akan menutupi seluruh permukaan mata bagian depan. Setahun kemudian, Adolf E. Fick dan Edouard Kalt merancang dan mempraktekkan pemasangan lensa kontak pada mata untuk membantu penglihatan.

Sumber lain menyebutkan bahwa pada tahun 1801 Thomas Young mendesain lensa kasar (crude lense) dari bahan baku lilin dan air dengan mempergunakan sejumlah teori tentang model-model masa depan yang kemudian diterapkan oleh beberapa ilmuwan lain, misalnya Istvan Komaromy
pada tahun 1929, untuk menyempurnakan metode pembuatan model cetakan dari mata yang sesungguhnya

Memasuki abad ke-20, William Feinbloom memperkenalkan lensa plastik yang ringan dan nyaman pada tahun 1939. Pada awal Perang Dunia II pada tahun 1939, keberadaan lensa kontak kaca mendapatkan pesaing berupa lensa kontak yang terbuat dari bahan plastik. Desain tersebut bertahan hingga tahun 1948 dengan inovasi lensa yang memiliki ukuran yang lebih kecil, yakni hanya
menutupi kornea mata. Setahun berselang, 1949, lensa kornea (corneal lenses) diperkenalkan. Lensa ini dapat dipasang pada mata selama 16 jam tiap hari, namun bahannya mudah rusak dan harganya mahal.

Soft contact lense pertama kali dipopulerkan pada tahun 1971. Delapan tahun kemudian (1978) pengembangan dilakukan dengan model baru yang disebut dengan GP contact lenses. Penggunaan lensa kontak pada mata memiliki batasan waktu, misalnya, pengguna lensa tidak disarankan untuk mengenakannya pada waktu tidur. Barulah pada tahun 1981 FDA menyetujui penggunaan lensa kontak dalam jangka waktu yang lebih lama. Namun secara umum pemasangan GP contact lenses
dengan jangka waktu lebih lama baru dipraktekkan pada tahun 1986. Perkembangan selanjutnya ialah berupa disposable soft contact lenses pada tahun 1987, diikuti dengan diperkenalkannya generasi terbaru lensa kontak GP yang terbuat dari bahan fluorosilicone acrylate.

Kurang lebih satu dekade berselang, tahun 1996 ditandai dengan munculnya one-day disposable soft lenses. Jenis lensa ini dapat dipergunakan selama satu hari kemudian setelah itu dapat dibuang dan diganti dengan yang baru.

Inovasi lensa kontak terus berlangsung hingga millennium kedua. Pada tahun 2002 produsen lensa kontak memasarkan silicone-hydrogel contact lenses. Bersamaan dengan momentum itu, FDA
mengeluarkan ijin penggunaan lensa kontak jenis overnight orthokeratology.

Referensi:
1. Contact Lense Manufacturers Association (CLMA). "A Brief History of Contact Lense". Diakses dari
http://www.contactlenses.org/, pada tanggal 10 Mei 2017.
2. Heiting G. "When Were Contact Lenses Invented?". Diakses dari http://www.allaboutvision.org/,
pada tanggal 10 Mei 2017.
3. "History of Contact Lenses". Diakses dari http://glasseshistory.com/glasses-history/history-of-
contact-lenses/, pada tanggal 11 Mei 2017.

Share:

Monday, May 8, 2017

Kerajaan-kerajaan di India Utara Abad VI SM

Pada awal abad ke-6 sebelum masehi India bagian Utara terbagi ke dalam banyak kerajaan independen. Bentuk pemerintahan yang diterapkan adalah monarki dan republik. Pemerintahan monarki mendominasi wilayah di dataran di sekitar Sungai Gangga, sedangkan pemerintahan republik dijalankan oleh negara-negara di  kaki pegunungan Himalaya.

Share: