Wednesday, September 2, 2015

Film Perang Pasifik

Meskipun menguatnya pengaruh Third Reich telah beberapa kali menarik perhatian studio-studio Amerika Serikat untuk membuat film, misalnya "Confessions of a Nazi Spy" (1939), "The Mortal Storm" (1940), dan "Escape" (1940), tidak ada perlakuan yang sebanding dengan bahaya yang muncul oleh militerisme dan ekspansi kerajaan Jepang selama akhir dekade 1930an. Akan tetapi, dalam hitungan hari setelah Amerika Serikat mengumumkan perang pada tanggal 8 Desember 1941, studio-studio Hollywood -- ibarat pabri-pabrik sipil yang berubah cepat menjadi 'pabrik perang' -- menjadi aktif untuk mencari cara-cara di mana mereka dapat membantu Sekutu untuk memenangkan perang. Presiden Roosevelt memahami bahwa

Hollywood merupakan salah satu 'penghasut' yang paling efektif di planet bumi, menetapkan Office of War Information's Bureau of Motion Pictures pada tanggal 18 Desember 1941, yang mengarahkan pemerintah AS untuk "berkonsultasi dengan dan memberikan masukan kepada para produser film tentang cara-cara di mana mereka dapat berperan di dalam Usaha Pertahanan Nasional."
Seperti umumnya perusahaan-perusahaan besar yang sedang mencari keuntungan maksimal, studio-studio Hollywood pada pertengahan era 1930an telah meraup keberhasilan di dalam menetapkan standar dan stabilitas produksi mereka. Salah satu cara terpenting untuk mencapainya ialah melalui evolusi secara bertahap 'genre-genre' film, bentuk-bentuk narasi populer yang mengikuti konvensi tertentu yang 'mendelineasi' latar, tokoh dan alur cerita sebuah film. Pada bulan Desember 1941, Hollywood sangat memerlukan rumus untuk membuat film-film pertempuran Perang Dunia II, namun tidak begitu bersemangat untuk mengubah 'genre' yang mereka gunakan sewaktu Perang Dunia I, karena banyak dari film-film tersebut -- termasuk "The Big Parade" (1925) dan "All Quiet on the Western Front" (1930) -- lebih mengedepankan horor dan kekejaman perang serta persaudaraan manusia di dalam pertempuran.
Barangkali tidak mengejutkan bahwa studio-studio Hollywood lebih memilih untuk berpaling ke genre-genre terlama, yakni Western, yang mereka adaptasi dengan sedikit alterasi untuk membuat film pertempuran Perang Dunia II.
Hollywood menggunakan sejumlah sineas yang telah lebih dahulu dikenal dalam film Western untuk menjadi pemeran film Perang Dunia II, misalnya aktor Errol Flynn, John Wayne, dan Tyrone Powers; sutradara John Ford dan Raoul Walsh; dan penulis naskah Dudley Nichols dan Lamar Trotti. Satu alterasi yang signifikan yang sangat diperlukan untuk mengubah nuansa Western menjadi Perang Dunia II ialah representasi protagonis. Jika peran 'hero' film Western biasanya beraksi sendiri, bebas, dan mandiri (meskipun biasanya bersekut dengan sekelompok orang yang mewakili masyarakat/peradaban), satuan-satuan pertempuran Perang Dunia II harus tetap menjadi satu. Tidak ada ruang bagi aksi 'cowboy' pemberani yang sanggup bertempur sendiri.

Akan tetapi, karena individualisme gaya Amerika tidak dapat diabaikan begitu saja, solusi yang ditawarkan oleh Hollywood adalah dengan menciptakan satuan-satuan dan peleton-peleton Perang Dunia II yang terdiri atas banyak orang dari latar belakang yang berbeda, yang masing-masing mewakili susunan masyarakat Amerika: kulit putih Anglo-Saxon protestan, katolik Irlandia, Yahudi (biasanya dari New York), Afro-Amerika (meskipun satuan tempur Afro-Amerika secara terpadu baru terbentuk setelah tahun 1950), Meksiko Amerika, Polandia Amerika, Italia Amerika, petani, sopir taksi, pekerja pabrik pengolaan baja, orang Selatan, orang Midwest, dan orang New England. Tipe-tipe keragaman ini (agama, ras, etnik, pekerjaan, dan geografi) menyimbolkan demokrasi dan harmoni di dalam negara Amerika Serikat yang perlu dipertahankan dan yang menjadi alasan utama mengapa negara tersebut ikut bertempur di dalam Perang Dunia II.

Paruh pertama tahun perang Pasifik diwarnai oleh serankaian bencana bagi Amerika Serikat: kehancuran Pearl Harbor, jatuhnya Guam dan Wake ke tangan Jepang, disusul kemuian Filipina dan barisan kematian Bataan, serta kekalahan di Corregidor. Meskipun demikian, studio-studio Hollywood mengambil titik cerah di antara kegelapan yang menyelimuti Amerika Serikat dan merilis lebih dari satu lusin film pada tahun 1942 tentang Perang Pasifik, antara lain "Little Tokyo, USA" (menggambarkan sopir taksi berkebangsaan Jepang dari New York yang memimpin geriliya orang Cina melawan Jepang); "Submarine Raider" (pertempuran antara kapal selam AS dan 'aircraft carrier' Jepang); "Flying Tigers" (menceritakan aksi heroik para penerbang pesawat tempur AS); dan "Wake Island" (aksi heroik 377 marinir menghadapi tentara Jepang yang jumlahnya sangat banyak).

Film "Wake Island" yang dirilis pada awal bulan September 1942 bukanlah satu-satunya produksi pertama Hollywood yang berlatarbelakang pertempuran sebenarnya dari Perang Dunia II namun merupakan salah satu dari film yang paling representatif dan berpengaruh tentang perang tersebut. Judul pembuka, yang menghubungkan peristiwa-peristiwa Pulau Wake dengan Valley Forge dan Custer's Last Stand, menyebutkan "men who fought savagely to the death, because in dying they gave eternal life."
Pada awal tahun 1943 Hollywood merilis dua film seminal lain tentang Perang Pasifik: "Air Force" (menceritakan awak pesawat pembom B-17 menerobos wilayah musuh di Pearl Harbor, Pulau Wake, dan Manila) dan "Bataan" (menceritakan tiga-belas relawan -- mungkin menggambarkan 13 koloni awal AS, mungkin pula Yesus dan 'Twelve Apostles' -- tetap bertahan dan memutuskan untuk melakukan misi bunuh diri guna melindungi 'retreat down' Sekutu erhadap Semenanjung Bataan). Kedua film menyajikan beragam kelompok pasukan AS yang setia dan bekerja sama menghadapi pasukan Jepang, yang dianggap bertempur secara tidak adil (menyerang perempuan dan anak-anak, menyiksa orang yang sudah menyerahkan diri, dan menusuk dari belakang) dan yang merayap di lantai hutan bagaikan ular berbisa.

Film yang diproduksi setelah perang berakhir adalah "Sands of Iwo Jima" (1949), yang didedikasikan untuk Korps Marinir Amerika Serikat, menampilkan aktor John Wayne sebagai pemera utama. Menyusul kemudian pada tahun 1951 Hollywood merilis tiga film sekaligus, yaitu "The Halls of Montezuma", "Operation Pacific", dan "Flying Leathernecks"; tiga film pada tahun 1952 ("The Wild Blue Yonder", "Submarine Command", dan "Okinawa"); Film tahun 1953 terdiri atas "Thunderbirs", "From Here to Eternity", dan "Above and Beyond"; "Battle Cry" (1955); Dua film tahun 1956 ("Between Heaven and Hell" dan "Away All Boats"); "The Bridge of River Kwai" (1957); Film tahun 1958 terdiri atas "Run Silent, Run Deep", "The Naked and the Dead", dan "In Love and War"; Dua film tahun 1959 ("Up Periscope" dan "Battle of the Coral Sea"; Dua film tahun 1960 ("Never So Few" dan "Hell to Eternity"); dua film tahun 1961 ("The Battle at Bloody Beach" dan "Operation Bottleneck"; dua film tahun 1962 ("Merrill's Marauders" dan "No Man Is an Island"; dua film tahun 1963 ("PT-109" dan "Cry of Battle"); "The Thin Red Line" (1964); dua film tahun 1965 ("None but the Brave" dan "Ambush Bay"); "Beach Red" (1967); dan "Hell in the Pacific" (1968).

Pada akhir era 1960an dengan pecahnya Perang Vietnam, penggambaran Perang Dunia II di dalam bidang sinema menjadi berkurang, meskipun sempat muncul "In Harm's Way" (1965) dan "Tora! Tora! Tora!" (1970). Era 1970an ditandai dengan perilisan film "Midway" (1976) dan "MacArthur" (1976). Memasuki era 1990an film tentang Perang Dunia II, khususnya Perang Pasifik menjadi hal yang sangat langka, namun Steven Spielberg sempat memproduksi film "Empire of the Sun" (1987), disusul kemudian film garapan Terence Malick yang memiliki judul sama film tahun 1964, "The Thin Red Line" (1998). Dua karya inilah yang mengingatkan kembali akan pertempuran di Perang Pasifik kepada pencinta film abad ke-21.

Referensi:
James T. Deutsch (WWII in the Pacific, An Encyclopedia, hal. 322-328)

Bacaan Pendukung:
Basinger, Jeanine. "The World War II Combat Film: Anatomy of a Genre" (1986).
Dick, Bernard F. "The Star-Spangled Screen: The American World War II Film" (1985).
Doherty, Thomas. "Projections of War: Hollywood, American Culture, and World War II" (edisi ke-2, 1999).
Koppes, Clayton R., dan Gregory D. Black. "Hollywood Goes to War: How Politics, Profits, and Propaganda Shaped World War II Movies" (1987).