Monday, September 7, 2015

Operasi Sekutu di Pulau Borneo

Salah satu pertempuran yang kurang dikenal di dalam rangkaian Perang Pasifik adalah invasi Sekutu terhadap Borneo. Dengan keberhasilan merebut kembali wilayah Filipina, terus berlanjutnya pertempuran untuk merebut Okinawa, dan runtuhnya Jerman, tidak banyak perhatian yang ditujukan pada usaha Sekutu menduduki Borneo, namun pendudukan wilayah tersebut mengganggu persediaan sumber daya alam pihak Jepang yang diambil dari Borneo dalam bentuk karet dan minyak. Selain itu, Pulau Tarakan sebelum invasi Borneo telah digunakan oleh armada Jepang.

Borneo jatuh ke tangan Southwest Pacific Command yang dipimpin oleh Jenderal Douglas MacArthur. MacArthur percaya bahwa pendudukan ladang minyak Borneo adalah langkah yang sangat penting, namun tentara Inggris dan Australia menganggap serangan di Mandalay (Burma) lebih penting daripada Borneo. Akan tetapi, MacArthur mendapatkan persetujuan untuk melancarkan serangan pada bulan Mei 1945. Rencana MacArthur mencakup tiga pendaratan yang terpisah: Pulau Tarakan, Teluk Brunei, dan Balikpapan. Hambatan awal yang menghadang Sekutu adalah banyaknya ranjau yang ironisnya dipasang sendiri oleh pihak Sekutu untuk menghambat lalu-lintas angkatan laut Jepang dan ranjau yang dipasang oleh Jepang untuk mempertahankan invasi mereka. Usaha penyapuan ranjau terganggu oleh kondisi perairan yang tidak stabil dan arus yang kuat. Namun secara keseluruhan penyapu ranjau Sekutu bekerja secara efektif dan hanya kehilangan satu kapal penghancur (destroyer), Jenkins, pada invasi tahap awal.

Pada tanggal 30 April 1945 komando-komando Sekutu menyerbu Pulau Sadau yang berada di sebelah barat Pulau Tarakan, dan sebuah batalion artileri dipindahkan ke pulau tersebut untuk mendukung invasi. Kedudukan Jepang di Tarakan mendapatkan serangan dari udara dan laut, dan pada tanggal 1 Mei 1945, 13.000 tentara 2d Brigade dari Australia mendarat ke Pulau Sadau. Jepang sebelumnya hanya mampu bertahan sekejap, dan pada tanggal 5 Mei 1945 kota Tarakan dan pangkalan udara pulau tersebut jatuh ke tangan Sekutu. Pada saat tentara Australia masuk semakin ke dalam Pulau Tarakan, Jepang tetap berusaha untuk mempertahankan diri dan mereka baru menyerah satu bulan kemudian. Dalam pertempuran tersebut 225 tentara Australia tewas dan 669 lainnya luka-luka, sedangkan Jepang kehilangan 1.540 tentara.
Teluk Brunei menjadi target selanjutnya. Teluk Brunei memiliki kekayaan alam yang menakjubkan dan pada saat itu merupakan daerah Borneo dengan jumlah penduduk paling banyak. Untuk tahap penyerangan di Teluk Brunei, Sekutu dapat mengandalkan bantuan dan kecerdasan dari jaringan gerilya. Terdapat empat satuan terpisah yang dipimpin oleh orang Inggris yang beroperasi di dekat lokasi invasi. Gerilya bahkan mampu membuka pangkalan udara kecil dan dipasok dengan baik oleh Sekutu. Namun sebelum Sekutu mampu menginvasi daerah pesisir pantai, mereka harus terlebih dahulu membereskan serangkaian pulau kecil yang berjajar di sepanjang tepi Teluk Brunei. Tujuan utama Sekutu pada tahap invasi Brunei adalah Pulau Labuan, kota Brunei, dan ladang minyak Seria dan Miva.

Meskipun Jepang hanya memiliki 1.500 orang pasukan untuk menahan invasi, para komandan Sekutu tetap mempertimbangkan kemungkinan adanya serangan angkatan laut Jepang selama berlangsungnya invasi. Guna mengantisipasi ancaman tersebut, sebuah skuadron yang terdiri atas kapal-kapal penghancur (cruiser) berat ditempatkan di antara Teluk Brunei dan Singapura (kemungkinan rute kejutan dari musuk secara dramatis berkurang pada saat kapal selam Inggris menenggelamkan kapal-kapal penghancur Jepang yang masih beroperasi di Laut Cina Selatan). Pada tanggal 10 Juni 1945 ratusan kapal Sekutu menuju ke Teluk Brunei, di antaranya mengangkut 9th Australian Division of Tobruk dan mendarat ke tiga titik: Pulau Labuan, Pulau Maura, dan pantai barat Teluk Brunei.

Invasi tahap ketiga mengarah ke Balikpapan yang merupakan bekas koloni Belanda. Setelah Combined Chiefs of the Allies membatalkan rencana-rencana untuk invasi ke Jawa, banyak komandan Sekutu yang merasa bahwa tahap terakhir invasi Borneo tidak terlalu penting dan bahwa sumber daya yang mereka miliki akan lebih baik dimanfaatkan di tempat lain; akan tetapi, MacArthur tidak berubah pendirian dan memerintahkan pendaratan terakhir untuk dilakukan. Invasi Balikpapan dilakukan oleh 33.000 tentara dari 7th Australian Division yang didukung oleh tiga skadron tank (termasuk skuadron 'flamethrowing tanks'). Menjelang invasi berlangsung, delapan 'cruiser' dan sembilan 'destroyer' sekutu membobardir pantai, sementara pesawat 'bomber' B-25 dan B-24 melakukan 'saturation bombing' dan pesawat tempr dari tiga pesawat pengangkut 'strafed' pantai. Sekutu mengajak serta Belanda di dalam invasi Balikpapan. Belanda mengirimkan sejumlah kapal 'cruiser', antara lain 'Tromp'. Pengeboman dari laut yang berlangsung selama enam belas hari tersebut merupakan pertempuran terpanjang di dalam Operasi Borneo. Jepang berusaha merespon serangan udara Sekutu dengan Serangan udara kejutan pada tanggal 25 Juni 1945. Enam pesawat torpedo Jepang menyerang armada Sekutu tetapi tidak dapat mengakibatkan kerusakan serius dan, justru sebaliknya, malah kehilangan tiga pesawat.

Pada tanggal 1 Juli 1945, tentara Australia mendarat ke tiga pantai di sepanjang garis pantai. Meskipun penyapu ranjau Sekutu telah mulai membersihkan jalur lima belas hari sebelum invasi, ranjau-ranjau tetap masih berserakan dan memakan korban empat dari lima 'landing craft' (dua belas 'landing craft' rusak karena ranjau atau serangan pihak Jepang dalam pertempuran).

Tom Lansford (WWII in the Pacific, An Encyclopedia, halaman 180-183).

Bacaan pendukung:
Gailey, Harry. 'The War in the Pacific: From Pearl Harbor to Tokyo Bay' (1995).
Karig, Walter, Russell Harris, dan Frank Manson. 'Battle Report: Victory in the Pacific' (1949).
Morrison, Samuel. 'The Liberation of the Philippines: Luzon, Mindanao, the Visayas.' dalam 'History of the United States Naval Operations in World War II' (1975)


Sejarah Olahraga Anggar

Anggar adalah sebuah seni sekaligus olahraga pedang yang menggunakan senjata berujung tumpul. Olahraga anggar sangat erat hubungannya dengan sejarah masa lalu, maka tidak mengherankan bahwa jenis olahraga ini termasuk antik Referensi yang paling dipercayai sebagai awal perkembangan anggar adalah ukiran pada candi di Madinet-Habur, Mesir yang dibangun oleh Raja Ramses III yang berangka taun 1190 SM. Para pelaku anggar (dalam bahasa Inggris disebut 'fencer') digambarkan bermain menggunakan senjata yang berujung tumpul dan mengenakan topeng seperti halnya yang dikenal orang di dalam olahraga anggar saat ini.

Peradaban-peradaban kuno lain, seperti Cina, Jepang, Persia, Babylonia, Greek, dan Romawi, juga memiliki kebiasaan olahraga menggunakan pedang sebagai salah satu rangkaian untuk melatih ketangkasan di dalam bertempur. Anehnya, olahraga pedang -- yang merupakan anteseden paling langsung dari olahraga anggar modern -- baru berkembang pada era dikenalnya bubuk mesiu dan senjata api pada abad ke-14. Kejuaraan anggar mulai diselenggarakan di Jerman, tepatnya di Marxbruder Frankfort pada tahun 1480. Setelah itu bermunculan asosiasi-asosiasi anggar di berbaga negara lain di Eropa. Di Britania Raya, Masters of Defence dibentuk atas prakarsa Raja Henry VIII sebelum tahun 1540.

Dari abad ke-16 hingga abad ke-18 perlombaan berhadiah menampilkan lomba ketangkasan dan ujian permainan pedang yang diikuti oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Para juara bertanding melawan para penantang di dalam pertarungan menggunakan berbagai macam senjata, seperti 'singlestick', 'quarterstaffs', dan 'backswords'. Dalam pertarungan tersebut tak jarang darah bercucuran. Pada akhir abad ke-18, James Figg, juara Corporation of Fencing masters (sekaligus juara tinju Inggris), memperkenalkan 'pugilisme' dalam event perlombaan. Karena 'fisticuffs' lebih mudah untuk dipelajari daripada permainan pedang, dan akibatnya tidak fatal, maka pengenalan model baru menjadi melebihi popularitas anggar. Anggar sendiri kemudian turun derajat menjadi sekedar kejuaraan tingkat provinsi.

Olahraga anggar modern mengenal tiga jenis senjata, yakni epee, foil, dan sabre. Ketiga jenis senjata tersebut berlaku bagi atlet anggar laki-laki maupun perempuan, meskipun atlet perempuan pada awalnya lebih memiliki spesialisasi untuk berlomba pada kategori foil. Perlombaan anggar berlangsung dalam kategori perorangan dan beregu. Untuk anggar beregu, setiap regu terdiri atas tiga hingga empat atlet. Pada awal perkembangannya seorang atlit anggar turun bertanding di dalam ketiga kategori.

Wednesday, September 2, 2015

Film Perang Pasifik

Meskipun menguatnya pengaruh Third Reich telah beberapa kali menarik perhatian studio-studio Amerika Serikat untuk membuat film, misalnya "Confessions of a Nazi Spy" (1939), "The Mortal Storm" (1940), dan "Escape" (1940), tidak ada perlakuan yang sebanding dengan bahaya yang muncul oleh militerisme dan ekspansi kerajaan Jepang selama akhir dekade 1930an. Akan tetapi, dalam hitungan hari setelah Amerika Serikat mengumumkan perang pada tanggal 8 Desember 1941, studio-studio Hollywood -- ibarat pabri-pabrik sipil yang berubah cepat menjadi 'pabrik perang' -- menjadi aktif untuk mencari cara-cara di mana mereka dapat membantu Sekutu untuk memenangkan perang. Presiden Roosevelt memahami bahwa

Hollywood merupakan salah satu 'penghasut' yang paling efektif di planet bumi, menetapkan Office of War Information's Bureau of Motion Pictures pada tanggal 18 Desember 1941, yang mengarahkan pemerintah AS untuk "berkonsultasi dengan dan memberikan masukan kepada para produser film tentang cara-cara di mana mereka dapat berperan di dalam Usaha Pertahanan Nasional."
Seperti umumnya perusahaan-perusahaan besar yang sedang mencari keuntungan maksimal, studio-studio Hollywood pada pertengahan era 1930an telah meraup keberhasilan di dalam menetapkan standar dan stabilitas produksi mereka. Salah satu cara terpenting untuk mencapainya ialah melalui evolusi secara bertahap 'genre-genre' film, bentuk-bentuk narasi populer yang mengikuti konvensi tertentu yang 'mendelineasi' latar, tokoh dan alur cerita sebuah film. Pada bulan Desember 1941, Hollywood sangat memerlukan rumus untuk membuat film-film pertempuran Perang Dunia II, namun tidak begitu bersemangat untuk mengubah 'genre' yang mereka gunakan sewaktu Perang Dunia I, karena banyak dari film-film tersebut -- termasuk "The Big Parade" (1925) dan "All Quiet on the Western Front" (1930) -- lebih mengedepankan horor dan kekejaman perang serta persaudaraan manusia di dalam pertempuran.
Barangkali tidak mengejutkan bahwa studio-studio Hollywood lebih memilih untuk berpaling ke genre-genre terlama, yakni Western, yang mereka adaptasi dengan sedikit alterasi untuk membuat film pertempuran Perang Dunia II.
Hollywood menggunakan sejumlah sineas yang telah lebih dahulu dikenal dalam film Western untuk menjadi pemeran film Perang Dunia II, misalnya aktor Errol Flynn, John Wayne, dan Tyrone Powers; sutradara John Ford dan Raoul Walsh; dan penulis naskah Dudley Nichols dan Lamar Trotti. Satu alterasi yang signifikan yang sangat diperlukan untuk mengubah nuansa Western menjadi Perang Dunia II ialah representasi protagonis. Jika peran 'hero' film Western biasanya beraksi sendiri, bebas, dan mandiri (meskipun biasanya bersekut dengan sekelompok orang yang mewakili masyarakat/peradaban), satuan-satuan pertempuran Perang Dunia II harus tetap menjadi satu. Tidak ada ruang bagi aksi 'cowboy' pemberani yang sanggup bertempur sendiri.

Akan tetapi, karena individualisme gaya Amerika tidak dapat diabaikan begitu saja, solusi yang ditawarkan oleh Hollywood adalah dengan menciptakan satuan-satuan dan peleton-peleton Perang Dunia II yang terdiri atas banyak orang dari latar belakang yang berbeda, yang masing-masing mewakili susunan masyarakat Amerika: kulit putih Anglo-Saxon protestan, katolik Irlandia, Yahudi (biasanya dari New York), Afro-Amerika (meskipun satuan tempur Afro-Amerika secara terpadu baru terbentuk setelah tahun 1950), Meksiko Amerika, Polandia Amerika, Italia Amerika, petani, sopir taksi, pekerja pabrik pengolaan baja, orang Selatan, orang Midwest, dan orang New England. Tipe-tipe keragaman ini (agama, ras, etnik, pekerjaan, dan geografi) menyimbolkan demokrasi dan harmoni di dalam negara Amerika Serikat yang perlu dipertahankan dan yang menjadi alasan utama mengapa negara tersebut ikut bertempur di dalam Perang Dunia II.

Paruh pertama tahun perang Pasifik diwarnai oleh serankaian bencana bagi Amerika Serikat: kehancuran Pearl Harbor, jatuhnya Guam dan Wake ke tangan Jepang, disusul kemuian Filipina dan barisan kematian Bataan, serta kekalahan di Corregidor. Meskipun demikian, studio-studio Hollywood mengambil titik cerah di antara kegelapan yang menyelimuti Amerika Serikat dan merilis lebih dari satu lusin film pada tahun 1942 tentang Perang Pasifik, antara lain "Little Tokyo, USA" (menggambarkan sopir taksi berkebangsaan Jepang dari New York yang memimpin geriliya orang Cina melawan Jepang); "Submarine Raider" (pertempuran antara kapal selam AS dan 'aircraft carrier' Jepang); "Flying Tigers" (menceritakan aksi heroik para penerbang pesawat tempur AS); dan "Wake Island" (aksi heroik 377 marinir menghadapi tentara Jepang yang jumlahnya sangat banyak).

Film "Wake Island" yang dirilis pada awal bulan September 1942 bukanlah satu-satunya produksi pertama Hollywood yang berlatarbelakang pertempuran sebenarnya dari Perang Dunia II namun merupakan salah satu dari film yang paling representatif dan berpengaruh tentang perang tersebut. Judul pembuka, yang menghubungkan peristiwa-peristiwa Pulau Wake dengan Valley Forge dan Custer's Last Stand, menyebutkan "men who fought savagely to the death, because in dying they gave eternal life."
Pada awal tahun 1943 Hollywood merilis dua film seminal lain tentang Perang Pasifik: "Air Force" (menceritakan awak pesawat pembom B-17 menerobos wilayah musuh di Pearl Harbor, Pulau Wake, dan Manila) dan "Bataan" (menceritakan tiga-belas relawan -- mungkin menggambarkan 13 koloni awal AS, mungkin pula Yesus dan 'Twelve Apostles' -- tetap bertahan dan memutuskan untuk melakukan misi bunuh diri guna melindungi 'retreat down' Sekutu erhadap Semenanjung Bataan). Kedua film menyajikan beragam kelompok pasukan AS yang setia dan bekerja sama menghadapi pasukan Jepang, yang dianggap bertempur secara tidak adil (menyerang perempuan dan anak-anak, menyiksa orang yang sudah menyerahkan diri, dan menusuk dari belakang) dan yang merayap di lantai hutan bagaikan ular berbisa.

Film yang diproduksi setelah perang berakhir adalah "Sands of Iwo Jima" (1949), yang didedikasikan untuk Korps Marinir Amerika Serikat, menampilkan aktor John Wayne sebagai pemera utama. Menyusul kemudian pada tahun 1951 Hollywood merilis tiga film sekaligus, yaitu "The Halls of Montezuma", "Operation Pacific", dan "Flying Leathernecks"; tiga film pada tahun 1952 ("The Wild Blue Yonder", "Submarine Command", dan "Okinawa"); Film tahun 1953 terdiri atas "Thunderbirs", "From Here to Eternity", dan "Above and Beyond"; "Battle Cry" (1955); Dua film tahun 1956 ("Between Heaven and Hell" dan "Away All Boats"); "The Bridge of River Kwai" (1957); Film tahun 1958 terdiri atas "Run Silent, Run Deep", "The Naked and the Dead", dan "In Love and War"; Dua film tahun 1959 ("Up Periscope" dan "Battle of the Coral Sea"; Dua film tahun 1960 ("Never So Few" dan "Hell to Eternity"); dua film tahun 1961 ("The Battle at Bloody Beach" dan "Operation Bottleneck"; dua film tahun 1962 ("Merrill's Marauders" dan "No Man Is an Island"; dua film tahun 1963 ("PT-109" dan "Cry of Battle"); "The Thin Red Line" (1964); dua film tahun 1965 ("None but the Brave" dan "Ambush Bay"); "Beach Red" (1967); dan "Hell in the Pacific" (1968).

Pada akhir era 1960an dengan pecahnya Perang Vietnam, penggambaran Perang Dunia II di dalam bidang sinema menjadi berkurang, meskipun sempat muncul "In Harm's Way" (1965) dan "Tora! Tora! Tora!" (1970). Era 1970an ditandai dengan perilisan film "Midway" (1976) dan "MacArthur" (1976). Memasuki era 1990an film tentang Perang Dunia II, khususnya Perang Pasifik menjadi hal yang sangat langka, namun Steven Spielberg sempat memproduksi film "Empire of the Sun" (1987), disusul kemudian film garapan Terence Malick yang memiliki judul sama film tahun 1964, "The Thin Red Line" (1998). Dua karya inilah yang mengingatkan kembali akan pertempuran di Perang Pasifik kepada pencinta film abad ke-21.

Referensi:
James T. Deutsch (WWII in the Pacific, An Encyclopedia, hal. 322-328)

Bacaan Pendukung:
Basinger, Jeanine. "The World War II Combat Film: Anatomy of a Genre" (1986).
Dick, Bernard F. "The Star-Spangled Screen: The American World War II Film" (1985).
Doherty, Thomas. "Projections of War: Hollywood, American Culture, and World War II" (edisi ke-2, 1999).
Koppes, Clayton R., dan Gregory D. Black. "Hollywood Goes to War: How Politics, Profits, and Propaganda Shaped World War II Movies" (1987).