Sunday, February 11, 2018

Sejarah Perkembangan Sepeda Motor Vespa

Keberadaan sepeda motor Vespa, yang dikenal sebagai scooter (orang Indonesia menyebutnya "sekuter") dapat ditelusuri sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua. Vespa boleh kita sebut sebagai salah satu trademark kendaraan bermotor Italia. Sekuter Vespa sangat populer bagi masyarakat Indonesia dari generasi ke generasi. Ialah pada tahun 1946, ketika Vespa untuk pertama kali diperkenalkan ke khalayak ramai di sebuah Klub Golf di kota Roma. Vespa tetap bertahan hingga memasuki usia produksinya yang ke-70. Berikut ini adalah rangkuman perjalanan penting secara kronologis dari keberadaan sekuter Vespa.
TAHUNPENJELASAN SINGKAT
1946Vespa memperkenalkan model Vespa 98 pada bulan April di sebuah klub golf di Kota Roma
1947Model kedua, Vespa 98 Corsa Circuito, diproduksi dengan kemampuan bersaing di dalam perlombaan balap motor. Enrico Piaggio, sang penggagas, termotivasi untuk membuat kendaraan yang agresif
Vespa 98 II Serie dipasarkan sejumlah 16.500 unit. Model ini menawarkan penyempurnaan yang signifikan dalam hal estetika maupun spesifikasi teknis
1949Pada tahun 1949 Vespa mengawali rancangan chassis dari bahan aluminium alloy yang biasa digunakan untuk pesawat terbang. Model ini dinamakan Vespa 125 Corsa "Alloy Frame"
Tak lama berselang, Piaggio meluncurkan Vespa 125cc ke luar negeri, khususnya Swiss
Menyusul kemudian, pada tahun yang sama, Vespa Circuito 125 aktif di dalam perlombaan balapan. Tujuan utama ikut perlombaan ialah untuk memperluas jaringan periklanan
1950Guna memperkenalkan citra sporty, Piaggio mengubah fokus untuk membuat rekor. Pada tanggal 7 April, bertempat di Sirkuit Monthlery, Prancis, Vespa membuat rekor baru dunia perlombaan 100, 500, dan 1000 mil
1951Dengan model Silurio (Torpedo), Vespa memecahkan rekor kecepatan. Momentum tersebut terjadi pada tanggal 9 Februari 1951. Model hasil rancangan Corradino D'Ascanio mencatat rekor 21,4 detik dalam jarak 1 kilometer dengan kecepatan rata-rata 171,1 km/jam)
Vespa 125 diproduksi kembali dengan teknologi dan estetika yang lebih sempurna. Model ini menjadi terkenal karena ikut "membintangi" film "Roman Holiday"
Masih pada tahun 1951, masyarakat dihadirkan oleh model baru, Vespa 125 "Six Days"
Vespa 125 U dipasarkan sebanyak 7.000 unit dan menjadi salah satu model yang saat ini paling banyak diburu oleh para kolektor
1955Hasil rintisan periode 1948-1949 direalisasikan pada tahun ini dalam bentuk Vespa 150 Sidecar. Model ini memiliki kemampuan untuk menempuh jarak yang jauh. Inovasi Sidecar kemudian disusul oleh model berikutnya, Vespa 150 GS. Model ini menjadi tonggak sejarah keberadaan Vespa karena dikenal sebagai sekuter yang paling indah yang pernah diproduksi
1956Satu dasawarsa setelah model pertama diperkenalkan, pabrik Pontedera berhasil mengukir sejarah dengan memasarkan kendaraan yang ke satu juta. Vespa 150 kemudian dipasarkan dalam tiga versi, yakni 125cc, 150cc, dan 150cc GS
Kementerian Pertahanan Prancis, atas lisensi Piaggio France (ACMA), berkeinginan untuk melakukan pengembangan kendaraan militer. Piaggio France merespon keinginan tersebut dengan memproduksi Vespa 150 T.A.P.
1957Tahun ini ditandai dengan munculnya Vespa 400. Untuk pertama kalinya Vespa memproduksi kendaraan beroda empat dengan mesin berada di bagian belakang. Vespa 400 diproduksi sebanyak 30.000 unit
1958Awal dari era mesin 125cc dengan dipasarkannya Vespa 125 (VNA2) yang menggunakan bodi yang terbuat dari dua lembar baja yang disambungkan (yang sekaligus berfungsi sebagai rangka)
1959Vespa meluncurkan seri Vespa 150 GS (Grand Sport) VS5 yang merupakan adaptasi dari VS1 yang diproduksi ada tahun 1951. Model ini memegang rekor jumlah produksi (80.000 unit)


Referensi:Vespa | vespa.com
Share:

Thursday, February 1, 2018

Kendaraan ATV


ATV (all-terrain vehicle) merupakan jenis kendaraan bermotor yang memiliki lebih dari dua roda dengan kemudi stang (seperti sepeda motor). ATV sering pula dinamakan sebagai quads or four-wheelers, karena di dalam perkembangannya jenis kendaraan ini lebih dikenal dalam bentuk empat roda.  Kendaraan ATV memiliki kemampuan untuk melintasi berbagai jenis medan, antara lain jalur berlumpur, berpasir, bebatuan, salju, dan jalur berat (off-road). Secara garis ATV diproduksi ke dalam dua jenis, yakni Utility dan Sport. Jenis Utility dipergunakan untuk mendukung pekerjaan dan menempuh perjalanan yang berat, sedangkan jenis Sport lebih mengarah pada perlombaan. Hingga tahun 2004 secara internasional ATV telah diproduksi sekitar 800.000 unit (Savage, 2004: 6; Motorbooks International, 2004). 

ATV pertama kali dikembangkan pada era 1950an, yakni dengan diperkenalkannya kendaraan beroda enam. Perusahaan automotif Jepang, Honda, kemudian membuat inovasi dengan memperkenakan ATV beroda tiga pada era 1970an. Kendaraan ini, yang pada awal perkembangannya diberi nama US90, menjadi terkenal karena digunakan di dalam sekuel film James Bond, "Diamonds Are Forever". Honda kemudian terus melakukan pengembangan lebih lanjut dengan memproduksi ATC200E Big Red pada tahun 1980. Model ini menjadi tonggak sejarah bagi kendaraan ATV dengan 
dilengkapi suspensi dan rak untuk menampung barang bawaan. Model ini sekaligus menjadi ATV jenis Utility yang pertama dipasarkan (Dixon, 2004). 

Tidak lama kemudian muncullah produsen automotif lain dari Jepang, yakni Suzuki, Kawasaki, dan Yamaha, menyaingi Honda di dalam memproduksi ATV. Suzuki memperkenalkan ATV roda empat QuadRunner LT125 pada tahun 1983. Dua tahun berikutnya Suzuki merilis model LT250R QuadRacer. Melihat geliat pesaing tersebut Honda tidak tinggal diam dengan memproduksi model FourTrax TRX250R. Produsen lainnya, Kawasaki dan Yamaha, kemudian menyusul. Kawasaki memperkenalkan model Tecate-4 250, sedangkan Yamaha merilis model Banshee 350 pada tahun 1987. Yamaha Banshee 350 menggunakan motor dua langkah silinder ganda dari sepeda motor model RD350 CL (Dixon, 2005).

Referensi:
Dixon T. (2005). Atv Handbook: Everything You Must Know About Atvs.
Motorbooks International. (2004). ATV Projects: Get the Most Out of Your All-Terrain Vehicle. Minnesota, United States: Ehlert Publishing Group.
Savage J. (2004. ATVs. Minnesota, United States: Capstone Press.
Share:

Tuesday, January 2, 2018

Pilot "Ace" pada masa perang

"Ace" adalah sebutan bagi pilot pesawat tempur yang memiliki capaian sekurang-kurangnya 5 (lima) kali melumpuhkan pesawat tempur/armada lawan. Daftar berikut ini mencakup pilot-pilot "Ace" pada Perang Dunia Pertama (Perang Besar) (1914-1918), Perang Vietnam (1965-1973), Perang Korea (1950-1953), Perang Dunia Kedua (1939-1945), dan Perang Rusia-Finlandia (1940-1944), Perang Sipil Spanyol (1936-1939), dan Perang Cina-Jepang-Manchuria (1937-1945).
Daftar Pilot "Ace" Pada Masa Perang (dengan on-target > 50).



















No.NamaNegara/PihakOn-targetMasa Perang
1Erich HartmannJerman352Perang Dunia II
2Gerhard BarkhornJerman301Perang Dunia II
3Gunther RailJerman275Perang Dunia II
4Otto KittelJerman267Perang Dunia II
5Walter NowotnyJerman258Perang Dunia II
6Eino JuutilainenFinlandia94Perang Finlandia-Rusia
7Hiroyohi NishizawaJepang87Perang Dunia II
8Manfred von RichthofenJerman80Perang Dunia I
9Tetsuya IwamotoJepang80Perang Dunia I
10Hans WindFinlandia78Perang Finlandia-Rusia
11Rene FonckPrancis75Perang Dunia I
12E. C. MannockBritania Raya73Perang Dunia I
13W. A. BishopBritania Raya72Perang Dunia I
14Shoichi SugitaJepang70Perang Dunia II
15Saburo SakaiJepang62Perang Dunia II
16Ernst UdetJerman62Perang Dunia I
17Ivan KozhedubRusia62Perang Dunia II
18R. CollishawKanada60Perang Dunia I
19Aleksandr PokryshinRusia59Perang Dunia II
20Hiromichi ShinoharaJepang58Perang Cina-Jepang
21Grigori RechkalovRusia58Perang Dunia II
22J. T. B. McCuddenBritania Raya57Perang Dunia I
23Nikolai GulaevPrancis54Perang Dunia I
24Georges GuynemerPrancis54Perang Dunia I
25A. W. Beauchamp-ProctorAfrika Selatan54Perang Dunia I
26D. R. MacLaurenKanada54Perang Dunia I
27Eino LukkanenFinlandia54Perang Finlandia-Rusia
28Arsenii VorozheikinRusia52Perang Dunia II
29Marmaduke PattleAfrika Selatan51Perang Dunia II


Referensi:
Cunningham R. (1977). Aces High. St. Louis, United States: Dynamics.
Harris J. N. (1963). Knights of the Air, Canadian Aces of World War I. Toronto, Canada: Macmillan.
Hess W. N. (1966). The Allied Aces of World War II. New York, United States: Arco.
Hess W. N. (1968). The American Aces of World War II and Korea. New York, United States: Harleyford.
Shores C. (1975). Fighter Aces. London, United Kingdom: Hamlyn.
Shores C. (1983). Air Aces. California, United States: Presidio Press.
Sterling C. H.(2002). “ Aces”. Dalam: Boyne W. J. (ed), Air Warfare: An International Encyclopedia. Volume One. California, United States: ABC-Clio, Inc. pp. 2-3.
Tolliver R., Constable R. (1965). Figher Aces. New York, United States: Macmillan.
Share:

Thursday, December 21, 2017

Riken pelopor lembaga riset di Jepang

RIKEN AICS
Institut Sains Komputer Riken (aics.riken.jp)

Riken merupakan pelopor institut riset di negara Jepang.  Institut ini dibentuk pada tahun 1917 dan menjadi tempat bagi sekitar 300 orang ilmuwan dari tujuh perguruan tinggi di Jepang untuk mengadakan penelitian. Pada awal pembentukannya Riken menjadi Institusi Administratif Independen dengan nama resmi Kokuritsu Kenkuy Kaihatsu Hojin Rikagaku Kenkyokusho. Riken mengadakan riset di dalam banyak cabang sains, antara lain fisika, kimia, biologi, ilmu kedokteran, teknik, dan komputer, dari riset dasar hingga aplikasi praktis.

Cikal bakal Riken adalah pada tahun 1913 pada seorang ilmuwan terkemuka negara tersebut, Jokichi Takamine, mengusulkan pembentukan sebuah institut riset sains nasional di Jepang. Rancangan pembentukan diserahkan oleh Viscount Shibusawa Eiichi, seorang pengusaha terkemuka pada waktu itu dan diajukan ke hadapan Diet. Melalui Resolusi Diet 1915 Riken secara resmi dibentuk pada bulan Maret 1917. Pada awal pembentukannya Riken ditetapkan sebagai lembaga swasta (zaidan) yang didanai oleh gabungan industri, pemerintah, dan Rumah Tangga Kerajaan. Pusat kegiatannya bertempat di distrik Komagome, Tokyo. Riken diketuai oleh Baron Dairoku Kikuchi, seorang ahli matematika. 

Pada tahun 1927, pada saat dipimpin oleh Viscount Masatoshi Okochi, dibentuklah Riken Konzern (sebuah zaibatsu), sebagai cabang institusi yang bergerak dalam bidang komersial (untuk mempromosikan dan memasarkan hasil penelitian). Setiap keuntungan yang diperoleh dari kegiatan Riken Konzern diberikan kepada Riken. 

Pada puncaknya kejayaannya (tahun 1939) Riken Konzern memiliki 121 pabrik dan 63 perusahaan cabang, termasuk Riken Kankoshi, yang sekarang berubah nama menjadi Ricoh.

Pada bulan April 1945 Amerika Serikat mengebom laboratorium Riken di Komagome, dan pada bulan November 1945, menjelang perang berakhir, tentara Sekutu menghancurkan dua cyclotron milik Riken. Setelah perang berakhir pihak Sekutu membubarkan Riken, namun tidak lama setelah itu kegiatannya dipulihkan dengan nama Kagaku Kenkyusho, atau Kaken. Pada tahun 1958 Diet mengeluarkan sebuah peraturan, Riken Law, dengan maksud mengembalikan status dan nama Riken. Pada tahun 1963 pusat kegiatan dipindahkan di Waku, Prefektur Saitama. 

Pada bulan Oktober 2003 terjadi perubahan status sekali lagi, yakni dari institusi swasta kembali menjadi Institusi Administratif Independen. Dengan status ini Riken masih mendapatkan dana dari pemerintah dan mendapatkan evaluasi secara periodik dari pihak pemerintah, namun kali in memiliki otonomi yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya.

Referensi:
Biography - R - Riken. Periodic Table Software v4.0.1 beta (c) Paul A. Fresney 2016.
Share:

Monday, December 18, 2017

Pertempuran Selat Otranto

Selat Otranto (Google Maps)

Selat Otranto (Albania: Kanal i Otrantos; Italia: Canale d'Otranto) adalah wilayah perairan yang menghubungkan Laut Adriatik dengan Laut Ionia. Selat ini menjadi pemisah antara Italia dan Albania. Jika diukur dari Kepi i Gjuhes (Albania) menuju Punta Palascia (Italia), Otranto memiliki lebar 72 kilometer. Selat ini diberinama sama dengan kota Otranto. Perannya selama berabad-abad sangatlah signifikan karena menjadi pusat lalu lintas dari Mediterranea ke Adriatik, dan sebaliknya. Selat Otranto tidak luput dari dampak Perang Besar (Great War) yang berlangsung antara tahun 1914 dan 1918. Di lokasi itu terjadi salah satu pertempuran pada masa perang tersebut. Pertempuran di Selat Otranto terjadi lebih kurang satu tahun sebelum perang berakhir. 

Setelah melancarkan sejumlah serangan terhadap Barrage tentara Sekutu di Otranto, Mediterranea, Angkatan Laut Austria-Hungaria memutuskan untuk mengadakan serangan gabungan (dengan skala yang lebih besar) pada malam hari tanggal 14-15 Mei 1917. Serangan tersebut dipimpin oleh Mikos Horthy de Nagybanya dengan kekuatan utama tiga kapal jenis light cruisers yang diberi nama Novaro, Helgoland dan Saida, dan dua kapal jenis destroyer. Fokus serangan tertuju pada kapal trawler anti-kapal selam Sekutu. Rute perjalanan menuju Otranto berawal dari dermaga Cattaro. Armada Austria-Hungaria mengawali serangan terhadap kapal pengangkut amunisi Italia dan destroyer pengawalnya. Kedua kapal tersebut berhasil ditenggelamkan. Selanjutnya, ketiga cruiser melanjutkan perjalanan menuju Barrage Otranto dengan menenggelamkan 14 kapal patroli Sekutu dalam waktu dua jam. Sementara itu dari pihak Sekutu melakukan antisipasi serangan dengan memberangkatkan flotila gabungan Inggris, Prancis dan Italia dari Brindisi. Tujuannya adalah menghadang armada Austria-Hungaria. Armada Sekutu diperkuat, antara lain, oleh empat destroyer Italia, dua cruiser Inggris (Dartmouth dan Bristol), dan Aquila sebagai pemimpin flotila. 

Pada tanggal 15 Mei terjadilah pertempuran. Di atas kertas pihak sekutu semestinya berhasil merebut kemenangan, namun lemahnya taktik yang diterapkan pada waktu itu membuat armada Austria-Hungaria berhasil lolos dari maut. Di dalam pertempuran tersebut Aquila dinetralisir oleh serangan Austria-Hungaria. Di dalam aksi kejar-kejaran dua destroyer Sekutu mengalami kemacetan mesin. Sementara itu Bristol bergerak terlalu lamban untuk mengejar kapal Austria-Hungaria. Dartmouth mengalami kerusakan parah akibat serangan torpedo.

Referensi:
D├ętroit d'Otrante - Partenaires - European Straits Initiative. (2017). Fr.europeanstraits.eu. Diakses 13 Desember 2017, dari http://www.fr.europeanstraits.eu/Partenaires/Detroit-d-Otrante
The Battle of Otranto Strait. Diakses 24 November 2017, dari http://www.firstworldwar.com/battles/otrantostraits.htm.

Share:

Tuesday, December 12, 2017

Peristiwa kunci penyebab Revolusi Rusia 1917

Tahun 2017 merupakan peringatan seabad Revolusi Rusia. Perubahan besar kehidupan berpolitik negara tersebut secara garis besar terbagi menjadi dua momentum, yakni pada awal tahun (Revolusi Februari) dan akhir tahun (Revolusi Oktober). Revolusi Rusia menjadi awal keruntuhan Kekaisaran Rusia dan terbentuknya Uni Soviet (yang secara resmi ditetapkan pada tahun 1922).

Penyebab terjadinya revolusi adalah kesulitan ekonomi, sosial, dan politik akibat tekanan yang diberikan oleh rezim penguasa terhadap rakyat Rusia sejak akhir abad ke-19. Historylist menyebutkan 5 (lima) kejadian yang memicu terjadinya pergolakan yang akhirnya mencapai puncaknya pada tahun 1917, yakni: pembunuhan Tsar Aleksandr II oleh kelompok revolusioner Narodnaya Volya; pembentukan Partai Buruh Sosial Demokratik Rusia; kekalahan Rusia di dalam perang melawan Jepang; peristiwa pembantaian oleh pengawal kerajaan terhadap para buruh yang sedang mengadakan unjuk rasa di Winter Palace, St. Petersburg; dan Perang Besar (Great War), atau kemudian disebut pula sebagai Perang Dunia Pertama. 

Pembunuhan Tsar Aleksandr II 

Tsar Aleksandr II (Nikolayevich) disebut sebagai pemimpin Rusia yang paling reformis semenjak Peter the Great. Tsar Aleksander II melakukan reformasi besar-besaran sejak tahun 1861 terhadap Rusia guna modernisasi. Ia juga menyetujui reformasi konstitusi yang oleh sebagian besar ahli diyakini sebagai cikal bakal Duma. Hanya satu hari setelah ia memberikan persetujuan atas reformasi konstitusi tersebut terjadilah penyerangan terhadap Aleksander II. Pada tanggal 13 Maret 1881 ia terbunuh oleh kelompok revolusioner Narodnaya Volya (Kehendak Rakyat). 

Pembentukan Partai Buruh Sosial Demokratik Rusia (RSDRP)

Di dalam bahasa Rusia partai ini bernama Rosiskaya sotsial-demokraticheskaya rabochaya partiya (RSDRP). RSDRP dibentuk di Minsk, ibukota Belarus, pada tahun 1898. Pada Kongres Kedua yang, anehnya, berlangsung di luar negeri, yakni di kota Brussels, Belgia, pada tahun 1903, RSDRP terpecah menjadi dua faksi, yakni faksi minoritas Mensheviks yang dipimpin oleh Julius Martov dan faksi mayoritas Bolsheviks yang dipimpin oleh Vladimir Lenin. Faksi Bolsheviks inilah yang kemudian mengambilalih Pemerintahan Sementara pada saat terjadi Revolusi Oktober 1917. Setelah berhasil merebut kekuasaan Bolsheviks melakukan tekanan terhadap para pesaing politik dan mengganti namanya menjadi Partai Komunis Rusia.

Kekalahan Rusia di dalam perang melawan Jepang

Perang Rusia-Jepang terjadi akibat sengketa atas wilayah Manchuria dan Korea pada tahun 1904. Di dalam peperangan antara kedua negara monarki tersebut Jepang keluar sebagai pemenang, namun Tsar Nikolai II (Aleksandrovich) tidak bersedia menerima kekalahan. Puncak kekalahan Rusia terjadi pada bulan Mei 1905 ketika Armada Baltik tidak mampu menahan gempuran Armada Kerajaan Jepang pada Pertempuran Tsuhima. Peperangan melawan Jepang menyebabkan popularitas Nikolai II menjadi berkurang. Kekalahan Rusia juga menyebabkan serangkaian ketegangan sosial dan politik di dalam negeri. Pada awal tahun 1905 keadaan semakin tidak terkendali sehingga terjadilah Revolusi 1905. 

Minggu Berdarah 

Minggu Berdarah (Krovavoye voskresenye) merupakan sebuah peristiwa sadis di dalam sejarah negara Rusia yang terjadi pada hari Minggu tanggal 22 Januari 1905. Tentara pengawal kerajaan menembaki sekumpulan buruh yang sedang melakukan unjuk rasa damai di Winter Palace, St. Petersburg. Peristiwa tersebut memakan korban 100 orang pada pihak pengunjuk rasa. Penembakan tersebut menyebabkan gelombang aksi mogok buruh, pemberontakan kelompok buruh tani, kerusuhan pelajar, pemberontakan militer dan pembunuhan politik yang tidak memerlukan waktu yang lama untuk menyebar berbagai wilayah Kerajaan Rusia. Para sejarawan menganggap peristiwa Minggu Berdarah sebagai titik awal Revolusi 1905. Momentum terebut juga mengawali radikalisasi buruh dan buruh tani yang sebelumnya menganggap tsar sebagai 'bapak' dan pelindung mereka. Tiba-tiba, tsar menjadi otokrat yang kejam dan beringas. Pembunuhan di St. Peterseburg tersebut merupakan tonggak awal terjadinya Revolusi 1917.
Salah satu sudut kota St. Petersburg (visit-petersburg.ru)
Perang Besar 

Perang Besar (Great War), atau kemudian disebut pula sebagai Perang Dunia Pertama, terjadi antara tahun 1914 dan 1918. Tsar memutuskan untuk ikut berperang dengan dukungan kuat dari pemuka masyarakat maupun pemimpin politik. Terdapat satu kelompok yang tidak bersedia jika Rusia ikut berperang, yakni Bolsheviks yang dipimpin oleh Vladimir Lenin. Di dalam prakteknya, Rusia mengalami banyak kerugian selama berperang, dari krisis ekonomi, kelangkaan pangan, hingga penderitaan rakyat. Memasuki akhir tahun 1916 semakin banyak pihak yang lelah untuk berperang dan bosan terhadap rezim tsar. Pada bulan Maret (atau Februari di dalam Kalender Julian, sehingga disebut sebagai Revolusi Februari) terjadilah aksi mogok disusul oleh kerusuhan di St.Petersburg. Kekacauan tersebut menjadi awal keruntuhan Monarki Rusia dan Dinasti Romanov yang telah berkuasa selama lebih dari tiga abad (sejak tahun 1613). Secara resmi, berakhirnya kekuasaan monarki tersebut ditandai dengan pengunduran diri Tsar Nikolai II pada tanggal 15 Maret 1917.

Referensi:
5 Events that Led to the Russian Revolution of 1917 - History Lists. (2017). Historylists.org. Retrieved 12 December 2017, from http://historylists.org/events/5-events-that-led-to-the-russian-revolution-of-1917.html.
http://www.visit-petersburg.ru/media/uploads/%D1%82%D0%BE%D0%BF2.jpg
Share:

Ekspedisi Inggris ke Jawa pada masa Hindia Timur Belanda

Perang Napoleon di Hindia Timur
Sumber Gambar: Wolter (1999: 27)
Aksi militer dan angkatan laut Inggris terhadap wilayah-wilayah yang diduduki oleh Belanda di Hindia Timur dimulai pada tahun 1785. Pada tahun tersebut Pangeran Wilhelm V Oranje pergi ke Inggris dan setelah itu ia memerintahkan Vereenigde Oostindische Compagne (VOC) untuk menyerahkan semua wilaya pendudukan di Asia Timur guna kepada Inggris guna mencegah pendudukan Prancis. Pendudukan secara nyata oleh Inggris diawali pada tahun 1795 ketika berhasil merebut wilayah Ternate. 

Setahun kemudian Inggris menyerang Batavia namun usaha tersebut terganggu karena Napoleon melakukan invasi terhadap Mesir. Perjanjian Perdamaian Amiens yang ditandatangani pada tanggal 23 Maret 1802 mengembalikan semua wilayah di Hindia ke tangan Belanda. Kondisi damai berlangsung selama satu tahun sebelum akhirnya pada bulan Mei 1803 pertikaian kembali terjadi antara Inggris dan Prancis.

Pada bulan November 1806 armada Inggris menghancurkan hampir semua armada Belanda di Batavia. Sisa-sisa kapal Belanda di Surabaya dan Gresik juga ditenggelamkan. Pada bulan Desember 1807 wilayah pertahanan pantai Belanda di Hindia Timur dikuasai oleh Inggris. Rangkaian kemenangan Inggris di dalam pertempuran melawan Prancis di Tanjung Harapan, Mauritius dan Bourbon mempermudah jalan untuk bergerak menuju wilayah Hindia Timur. Inggris tengah menikmati fase yang positif. Pada pertengahan tahun 1810 mereka merebut kepulauan rempah-rempah dengan menduduki Ambon dan Banda. 

Sebaliknya, Belanda mengalami nasib yang sial. Selain kehilangan wilayah di Hindia Timur, di dalam negeripun mereka harus mengakui kekalahan dari Prancis. Puncak kekalahan Belanda dari Prancis di wilayah domestik terjadi pada bulan Juni 1810. Merasa mendapatkan angin segar, Inggris menyusun rencana untuk memperluas kekuasaannya atas Hindia Timur dengan menyerang Pulau Jawa. Dengan bantuan tentara Madras yang dikoordinasi oleh East India Company Council (EICC) Inggris melakukan invasi dengan armada laut berkekuatan 80 kapal. Invasi terdiri atas tiga divisi yang memiliki pangkalan di Penang, Madras, dan Bengal. Pasukan yang memperkuat armada tersebut terdiri atas 12.000 orang (4.000 orang berasal dari Eropa), sedangkan sisanya berasal dari Madras dan Bengal (sepoy). 

Inggris mencapai Pulau Jawa pada tanggal 4 Agustus 1811, tepatnya di daerah Cilincing. Setelah diwarnai oleh serangkaian pertempuran singkat, baik tentara Belanda maupun Prancis dipaksa untuk melarikan diri ke sebuah benteng di Cornelis, yang merupakan benteng terkuat Belanda di Hindia Timur. Batavia akhirnya jatuh ke tangan Inggris pada tanggal 8 Agustus 1811.


Gubernur Jenderal Jawa, Jan Willem Janssens, yang merupakan pimpinan tertinggi benteng Cornelis, menolak untuk menyerahkan diri. Tentara Inggris terus menggempur. Serangan yang bertubi-tubi memaksa Janssens bersama sejumlah pasukannya melarikan diri ke Buitenzorg. Dari Buitenzorg, ia kemudian melarikan diri kembali menuju Semarang. Akhirnya Janssens menyerah dan Jawa berikut wilayah-wilayah yang menjadi bagiannya secara resmi dikuasai oleh Inggris. 

Langkah berikutnya yang diambil oleh Inggris adalah penaklukan terhadap Kraton Yogyakarta. Pada bulan Juni 1812 Inggris menumbangkan kekuasaan Sultan Yogyakarta pada waktu itu. Peristiwa tersebut terjadi pada saat koloni Inggris di Jawa dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles. 

Pemerintahan Inggris atas Jawa, khususnya Jawa Tengah, bukannya tanpa hambatan. Pada masa pemerintahan Raffles terjadi sebuah konspirasi yang dilakukan oleh sejumlah sepoy pada bulan Oktober 1815. Setahun kemudian masa jabatan Raffles berakhir. Pada tanggal 25 Maret 1816 ia mengadakan serah terima pemerintahan koloni dan kedudukannya sebagai Letnan-Gubernur Jawa digantikan oleh John Fendall. 

Referensi:
Wolter J.A.  (1999). The Napoleonic War in the Dutch East Indies: An essay and cartobibliography of the Minto Collection. Washington, D.C., United States: Library of Congress. pp. 7-8.
Share: