Friday, May 26, 2017

Invasi Tyre Oleh Alexander Agung

0 comments

Tyre pada masa itu menjadi kota penting, bukan hanya bagi Phoenicia, melainkan pula bagi dunia, khususnya di dalam kegiatan maritim. Alexander membaca situasi bahwa jika kota ini dapat direbut maka misinya untuk menduduki Mesir dan Babylonia akan terlaksana. Para duta besar Tyre mencoba bernegosiasi agar kota tersebut bebas dari kekuasaan pihak manapun. Namun Alexander sepertinya tidak sependapat.

Referensi:
Patrick S. 2013. Alexander the Great: The Macedonian Who Conquered the World.

Tuesday, May 16, 2017

Lensa Kontak

0 comments

Lensa kontak telah digagas sejak awal abad ke-16 oleh Leonardo Da Vinci. Pada tahun 1508 Da Vinci mengutarakan sebuah konsep mengenai lensa kontak. Ia berpendapat bahwa optik dari mata manusia dapat dirubah dengan kontak mata langsung dengan air. Setelah hampir tiga abad tidak terjadi perkembangan berarti, lensa kontak dibicarakan kembali oleh John Herschel pada tahun 1823. Herschel memperkenalkan konsep tentang model cetakan dari
mata manusia. Model cetakan tersebut akan mempermudah produksi lensa yang sesuai jika dipasang pada permukaan mata bagian
depan. Akan tetapi, realisasi dari pemikiran Herschel baru dilakukan 50 tahun kemudian oleh F. A. Muller. Dengan mempergunakan gagasan Herschel, ia merancang lensa kontak pertama kali pada tahun 1887 dengan temuan lensa kontak yang terbuat dari bahan kaca yang berukuran selebar mata, sehingga jika dipasang akan menutupi seluruh permukaan mata bagian depan. Setahun kemudian, Adolf E. Fick dan Edouard Kalt merancang dan mempraktekkan pemasangan lensa kontak pada mata untuk membantu penglihatan.

Sumber lain menyebutkan bahwa pada tahun 1801 Thomas Young mendesain lensa kasar (crude lense) dari bahan baku lilin dan air dengan mempergunakan sejumlah teori tentang model-model masa depan yang kemudian diterapkan oleh beberapa ilmuwan lain, misalnya Istvan Komaromy
pada tahun 1929, untuk menyempurnakan metode pembuatan model cetakan dari mata yang sesungguhnya

Memasuki abad ke-20, William Feinbloom memperkenalkan lensa plastik yang ringan dan nyaman pada tahun 1939. Pada awal Perang Dunia II pada tahun 1939, keberadaan lensa kontak kaca mendapatkan pesaing berupa lensa kontak yang terbuat dari bahan plastik. Desain tersebut bertahan hingga tahun 1948 dengan inovasi lensa yang memiliki ukuran yang lebih kecil, yakni hanya
menutupi kornea mata. Setahun berselang, 1949, lensa kornea (corneal lenses) diperkenalkan. Lensa ini dapat dipasang pada mata selama 16 jam tiap hari, namun bahannya mudah rusak dan harganya mahal.

Soft contact lense pertama kali dipopulerkan pada tahun 1971. Delapan tahun kemudian (1978) pengembangan dilakukan dengan model baru yang disebut dengan GP contact lenses. Penggunaan lensa kontak pada mata memiliki batasan waktu, misalnya, pengguna lensa tidak disarankan untuk mengenakannya pada waktu tidur. Barulah pada tahun 1981 FDA menyetujui penggunaan lensa kontak dalam jangka waktu yang lebih lama. Namun secara umum pemasangan GP contact lenses
dengan jangka waktu lebih lama baru dipraktekkan pada tahun 1986. Perkembangan selanjutnya ialah berupa disposable soft contact lenses pada tahun 1987, diikuti dengan diperkenalkannya generasi terbaru lensa kontak GP yang terbuat dari bahan fluorosilicone acrylate.

Kurang lebih satu dekade berselang, tahun 1996 ditandai dengan munculnya one-day disposable soft lenses. Jenis lensa ini dapat dipergunakan selama satu hari kemudian setelah itu dapat dibuang dan diganti dengan yang baru.

Inovasi lensa kontak terus berlangsung hingga millennium kedua. Pada tahun 2002 produsen lensa kontak memasarkan silicone-hydrogel contact lenses. Bersamaan dengan momentum itu, FDA
mengeluarkan ijin penggunaan lensa kontak jenis overnight orthokeratology.

Referensi:
1. Contact Lense Manufacturers Association (CLMA). "A Brief History of Contact Lense". Diakses dari
http://www.contactlenses.org/, pada tanggal 10 Mei 2017.
2. Heiting G. "When Were Contact Lenses Invented?". Diakses dari http://www.allaboutvision.org/,
pada tanggal 10 Mei 2017.
3. "History of Contact Lenses". Diakses dari http://glasseshistory.com/glasses-history/history-of-
contact-lenses/, pada tanggal 11 Mei 2017.

Monday, May 8, 2017

Kerajaan-kerajaan di India Utara Abad VI SM

0 comments

Pada awal abad ke-6 sebelum masehi India bagian Utara terbagi ke dalam banyak kerajaan independen. Bentuk pemerintahan yang diterapkan adalah monarki dan republik. Pemerintahan monarki mendominasi wilayah di dataran di sekitar Sungai Gangga, sedangkan pemerintahan republik dijalankan oleh negara-negara di  kaki pegunungan Himalaya.

Wednesday, November 2, 2016

Kronologi Perang Pasifik, Bagian I (1941-1942)

Kronologi Perang Pasifik [1]

Tahun 1941
07 Desember: Tentara Jepang mendarat di Thailand dan Malaya. Serangan terhadap Hong Kong.
07 Desember: Serangan terhadap Pearl Harbor.
08 Desember: Kapal Perang Inggris, "Prince of Wales" dan "Repulse", tenggelam. Tentara Jepang mencapai Luzon, Filipina.
11 Desember: Pertempuran merebut wilayah Jitra, Malaya, dimenangkan oleh Jepang.
17 Desember: Pihak Inggris menarik diri menuju ke Sungai Perak, Malaya.
22 Desember: Kekuatan utama tentara Jepang menguasai Luzon, Filipina.
23 Desember: Penaklukan Pulau Wake. Tentara Amerika Serikat dipukul mundur dan lari ke Bataan, Filipina.
25 Desember: Penaklukan atas Hong Kong.
26 Desember: Tentara Jepang memblokade jalur Sungai Perak.

Tahun 1942
07 Januari: Tentara Inggris menuju ke persimpangan Sungai Slim.
10 Januari: Tentara Jepang mulai mendarat di Indonesia bagian Utara yang dikuasai Belanda.
11 Januari: Jepang menduduki Kuala Lumpur, Malaya.
14 Januari: Divisi Australia menjebak tentara Jepang di Gemas.
15 Januari: Pertempuran di simpang Sungai Muar, tentara Australia dipukul mundur.
20 Januari: Tentara Selatan Jepang menginvasi Burma.
21 Januari: Jepang mengebom New Guinea.
30 Januari: Inggris dipukul mundur dan lari ke Singapura.
14 Februari: Jepang mendarat di Sumatera.
15 Februari: Penaklukan Singapura. Inggris mengalami kekalahan besar.
17 Februari: Jepang mendarat di Bali.
27 Februari: Pertempuran Laut Jawa. Angkatan Laut Sekutu takluk.
29 Februari: Jepang mendarat di Jawa.
21 Maret: Jepang memperluas pendudukan hingga Burma bagian tengah.
05/09 April: Kapal Jepang menyerang Ceylon (Sri Lanka).
08 April: Bataan takluk. Amerika Serikat mengalami kekalahan besar.
18 April: Serangan Doolittle terhadap Tokyo.
03 Mei: Operasi Tulagi-Moresby. Pertempuran Laut Coral.
05/06 Mei: Jepang memasuki wilayah Cina dari Burma. Serangan dan Penaklukan Corregidor.
20 Mei: Inggris mundur sepenuhnya dari Burma.
4 Juni: Pertempuran Midway. Jepang mengalami kekalahan besar.
21 Juli: Jepang mendarat di Buna, New Guinea.
07 Agustus: 1st Marine Division mendarat di Guadalcanal.
08/09 Agustus: Pertempuran laut di Pulau Savo.
20 Agustus: Angkatan Udara Amerika Serikat mulai mendarat di Guadalcanal.
23 Agustus: Pertempuran laut di Kepulauan Solomon Timur
11 September: Tentara Australia menahan serangan Jepang terhadap Port Moresby, New Guinea.
11/12 Oktober: Pertempuran laut di Cape Esperance.
24 Oktober: Pertempuran laut Santa Cruz.
12/13 November: Pertempuran Laut I untuk merebut Guadalcanal.
13/14 November: Pertempuran Laut II untuk merebut Guadalcanal.
30 November: Pertempuran laut Tassafaronga.
21 Desember: Tentara Inggris masuk kembali ke Burma.

Peta Guadalcanal (1942) [2]


Referensi:
[1] The Pacific War: A World War II Summary; War Events Summary [http://www.wtj.com/articles/pacific_summary/timeline.htm]. Diakses tanggal 2 November 2016.
[2] Map of WWII: The Guadalcanal Campaign 1942.

Wednesday, March 9, 2016

Creighton Williams Abrams, Jr.

Creighton William Abrams, Jr. lahir di Springfield, Massachusetts, Amerika Serikat, pada tanggal 15 September 1914. Ia menyelesaikan pendidikan U.S. Military Academy, West Point, pada tahun 1936 dan tugas pertamanya menjadi anggota 7th Cavalry Regiment di Fort Bliss, Texas. Abrams promosi pangkat sebagai kapten pada tahun 1940.

Pengakuan pertama sebagai seorang profesional untuk Abrams ialah saat ia berpangkat letnan kolonel dan menjadi komandan sebuah batalion tank yang menjadi ujung tombak Third Army (di bawah pimpinan Jenderal George Patton) dalam operasi di berbagai tempat di Eropa. Creighton Abrams memimpin pasukan di tapal batas Jerman untuk ikut membantu 101st Airborne Division yang dikepung oleh tentara Jerman di Bastogne pada tanggal 16 Desember 1944, tepatnya saat terjadi Pertempuran Bulge (Battle of the Bulge). Atas keberhasilan tersebut Abrams naik pangkat menjadi kolonel.

Pasca Perang Dunia II, Creighton Williams Abrams, Jr. menjabat sebagai direktur taktik pada Armor School, Fort Knox periode 1946-1948, dan Chief-of-staff  I, X, dan IX Corps di Korea periode 1953-1954. Karir selanjutnya bagi Abrams adalah Army General Staff bersamaan dengan promosinya menjadi brigadir jenderal pada tahun 1956, kemudian naik pangkat lagi menjadi mayor jenderal pada tahun 1960.

Pada periode 1960-1962 Creighton Abrams menjabat sebagai komandan 3rd Armored Divison di Jerman, sebuah pos penting selama berlangsungnya Perang Dingin. Setelah memimpin pasukan yang menghalau kerusuhan demonstrasi hak-hak sipil di Mississippi (1962-1963), Abrams dipromosikan sebagai letnan jenderal dan mengambilalih pucuk pimpinan V Corps. Pada pertengahan tahun 1964 ia dipanggil kembali ke Eropa dan naik pangkat sebagai jenderal, sekaligus menduduki jabatan Vice Chief-of-Staff Angkatan Darat. Selanjutnya bulan Mei 1967 bertugas ke Vietnam sebagai deputi komandan bagi Jenderal William C. Westmoreland. Konsentrasinya tertuju pada pemantapan angkatan bersenjata yang bertugas di Vietnam Selatan. Pada saat terjadi Tet Offensive bulan Januari 1968 pasukan yang dipimpin oleh Abrams menunjukkan hasil yang lebih memuaskan bagi Amerika Serikat.

Jenderal Creighton Williams Abrams, Jr. meninggal pada tanggal 4 September 1974 di Washington, D.C. akibat penyakit kanker. Kontribusi terakhirnya ialah mereformasi angkatan bersenjata Amerika Serikat yang kelak menunjukkan hasilnya dalam Perang Teluk Persia pada tahun 1991.

Referensi:
Tucker, S. C. (ed). 2015. 500 Great Military Leaders, Vol. I: A-K. Oxford: ABC-CLIO, LLC

Monday, September 7, 2015

Operasi Sekutu di Pulau Borneo

Salah satu pertempuran yang kurang dikenal di dalam rangkaian Perang Pasifik adalah invasi Sekutu terhadap Borneo. Dengan keberhasilan merebut kembali wilayah Filipina, terus berlanjutnya pertempuran untuk merebut Okinawa, dan runtuhnya Jerman, tidak banyak perhatian yang ditujukan pada usaha Sekutu menduduki Borneo, namun pendudukan wilayah tersebut mengganggu persediaan sumber daya alam pihak Jepang yang diambil dari Borneo dalam bentuk karet dan minyak. Selain itu, Pulau Tarakan sebelum invasi Borneo telah digunakan oleh armada Jepang.

Borneo jatuh ke tangan Southwest Pacific Command yang dipimpin oleh Jenderal Douglas MacArthur. MacArthur percaya bahwa pendudukan ladang minyak Borneo adalah langkah yang sangat penting, namun tentara Inggris dan Australia menganggap serangan di Mandalay (Burma) lebih penting daripada Borneo. Akan tetapi, MacArthur mendapatkan persetujuan untuk melancarkan serangan pada bulan Mei 1945. Rencana MacArthur mencakup tiga pendaratan yang terpisah: Pulau Tarakan, Teluk Brunei, dan Balikpapan. Hambatan awal yang menghadang Sekutu adalah banyaknya ranjau yang ironisnya dipasang sendiri oleh pihak Sekutu untuk menghambat lalu-lintas angkatan laut Jepang dan ranjau yang dipasang oleh Jepang untuk mempertahankan invasi mereka. Usaha penyapuan ranjau terganggu oleh kondisi perairan yang tidak stabil dan arus yang kuat. Namun secara keseluruhan penyapu ranjau Sekutu bekerja secara efektif dan hanya kehilangan satu kapal penghancur (destroyer), Jenkins, pada invasi tahap awal.

Pada tanggal 30 April 1945 komando-komando Sekutu menyerbu Pulau Sadau yang berada di sebelah barat Pulau Tarakan, dan sebuah batalion artileri dipindahkan ke pulau tersebut untuk mendukung invasi. Kedudukan Jepang di Tarakan mendapatkan serangan dari udara dan laut, dan pada tanggal 1 Mei 1945, 13.000 tentara 2d Brigade dari Australia mendarat ke Pulau Sadau. Jepang sebelumnya hanya mampu bertahan sekejap, dan pada tanggal 5 Mei 1945 kota Tarakan dan pangkalan udara pulau tersebut jatuh ke tangan Sekutu. Pada saat tentara Australia masuk semakin ke dalam Pulau Tarakan, Jepang tetap berusaha untuk mempertahankan diri dan mereka baru menyerah satu bulan kemudian. Dalam pertempuran tersebut 225 tentara Australia tewas dan 669 lainnya luka-luka, sedangkan Jepang kehilangan 1.540 tentara.
Teluk Brunei menjadi target selanjutnya. Teluk Brunei memiliki kekayaan alam yang menakjubkan dan pada saat itu merupakan daerah Borneo dengan jumlah penduduk paling banyak. Untuk tahap penyerangan di Teluk Brunei, Sekutu dapat mengandalkan bantuan dan kecerdasan dari jaringan gerilya. Terdapat empat satuan terpisah yang dipimpin oleh orang Inggris yang beroperasi di dekat lokasi invasi. Gerilya bahkan mampu membuka pangkalan udara kecil dan dipasok dengan baik oleh Sekutu. Namun sebelum Sekutu mampu menginvasi daerah pesisir pantai, mereka harus terlebih dahulu membereskan serangkaian pulau kecil yang berjajar di sepanjang tepi Teluk Brunei. Tujuan utama Sekutu pada tahap invasi Brunei adalah Pulau Labuan, kota Brunei, dan ladang minyak Seria dan Miva.

Meskipun Jepang hanya memiliki 1.500 orang pasukan untuk menahan invasi, para komandan Sekutu tetap mempertimbangkan kemungkinan adanya serangan angkatan laut Jepang selama berlangsungnya invasi. Guna mengantisipasi ancaman tersebut, sebuah skuadron yang terdiri atas kapal-kapal penghancur (cruiser) berat ditempatkan di antara Teluk Brunei dan Singapura (kemungkinan rute kejutan dari musuk secara dramatis berkurang pada saat kapal selam Inggris menenggelamkan kapal-kapal penghancur Jepang yang masih beroperasi di Laut Cina Selatan). Pada tanggal 10 Juni 1945 ratusan kapal Sekutu menuju ke Teluk Brunei, di antaranya mengangkut 9th Australian Division of Tobruk dan mendarat ke tiga titik: Pulau Labuan, Pulau Maura, dan pantai barat Teluk Brunei.

Invasi tahap ketiga mengarah ke Balikpapan yang merupakan bekas koloni Belanda. Setelah Combined Chiefs of the Allies membatalkan rencana-rencana untuk invasi ke Jawa, banyak komandan Sekutu yang merasa bahwa tahap terakhir invasi Borneo tidak terlalu penting dan bahwa sumber daya yang mereka miliki akan lebih baik dimanfaatkan di tempat lain; akan tetapi, MacArthur tidak berubah pendirian dan memerintahkan pendaratan terakhir untuk dilakukan. Invasi Balikpapan dilakukan oleh 33.000 tentara dari 7th Australian Division yang didukung oleh tiga skadron tank (termasuk skuadron 'flamethrowing tanks'). Menjelang invasi berlangsung, delapan 'cruiser' dan sembilan 'destroyer' sekutu membobardir pantai, sementara pesawat 'bomber' B-25 dan B-24 melakukan 'saturation bombing' dan pesawat tempr dari tiga pesawat pengangkut 'strafed' pantai. Sekutu mengajak serta Belanda di dalam invasi Balikpapan. Belanda mengirimkan sejumlah kapal 'cruiser', antara lain 'Tromp'. Pengeboman dari laut yang berlangsung selama enam belas hari tersebut merupakan pertempuran terpanjang di dalam Operasi Borneo. Jepang berusaha merespon serangan udara Sekutu dengan Serangan udara kejutan pada tanggal 25 Juni 1945. Enam pesawat torpedo Jepang menyerang armada Sekutu tetapi tidak dapat mengakibatkan kerusakan serius dan, justru sebaliknya, malah kehilangan tiga pesawat.

Pada tanggal 1 Juli 1945, tentara Australia mendarat ke tiga pantai di sepanjang garis pantai. Meskipun penyapu ranjau Sekutu telah mulai membersihkan jalur lima belas hari sebelum invasi, ranjau-ranjau tetap masih berserakan dan memakan korban empat dari lima 'landing craft' (dua belas 'landing craft' rusak karena ranjau atau serangan pihak Jepang dalam pertempuran).

Tom Lansford (WWII in the Pacific, An Encyclopedia, halaman 180-183).

Bacaan pendukung:
Gailey, Harry. 'The War in the Pacific: From Pearl Harbor to Tokyo Bay' (1995).
Karig, Walter, Russell Harris, dan Frank Manson. 'Battle Report: Victory in the Pacific' (1949).
Morrison, Samuel. 'The Liberation of the Philippines: Luzon, Mindanao, the Visayas.' dalam 'History of the United States Naval Operations in World War II' (1975)


Sejarah Olahraga Anggar

Anggar adalah sebuah seni sekaligus olahraga pedang yang menggunakan senjata berujung tumpul. Olahraga anggar sangat erat hubungannya dengan sejarah masa lalu, maka tidak mengherankan bahwa jenis olahraga ini termasuk antik Referensi yang paling dipercayai sebagai awal perkembangan anggar adalah ukiran pada candi di Madinet-Habur, Mesir yang dibangun oleh Raja Ramses III yang berangka taun 1190 SM. Para pelaku anggar (dalam bahasa Inggris disebut 'fencer') digambarkan bermain menggunakan senjata yang berujung tumpul dan mengenakan topeng seperti halnya yang dikenal orang di dalam olahraga anggar saat ini.

Peradaban-peradaban kuno lain, seperti Cina, Jepang, Persia, Babylonia, Greek, dan Romawi, juga memiliki kebiasaan olahraga menggunakan pedang sebagai salah satu rangkaian untuk melatih ketangkasan di dalam bertempur. Anehnya, olahraga pedang -- yang merupakan anteseden paling langsung dari olahraga anggar modern -- baru berkembang pada era dikenalnya bubuk mesiu dan senjata api pada abad ke-14. Kejuaraan anggar mulai diselenggarakan di Jerman, tepatnya di Marxbruder Frankfort pada tahun 1480. Setelah itu bermunculan asosiasi-asosiasi anggar di berbaga negara lain di Eropa. Di Britania Raya, Masters of Defence dibentuk atas prakarsa Raja Henry VIII sebelum tahun 1540.

Dari abad ke-16 hingga abad ke-18 perlombaan berhadiah menampilkan lomba ketangkasan dan ujian permainan pedang yang diikuti oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Para juara bertanding melawan para penantang di dalam pertarungan menggunakan berbagai macam senjata, seperti 'singlestick', 'quarterstaffs', dan 'backswords'. Dalam pertarungan tersebut tak jarang darah bercucuran. Pada akhir abad ke-18, James Figg, juara Corporation of Fencing masters (sekaligus juara tinju Inggris), memperkenalkan 'pugilisme' dalam event perlombaan. Karena 'fisticuffs' lebih mudah untuk dipelajari daripada permainan pedang, dan akibatnya tidak fatal, maka pengenalan model baru menjadi melebihi popularitas anggar. Anggar sendiri kemudian turun derajat menjadi sekedar kejuaraan tingkat provinsi.

Olahraga anggar modern mengenal tiga jenis senjata, yakni epee, foil, dan sabre. Ketiga jenis senjata tersebut berlaku bagi atlet anggar laki-laki maupun perempuan, meskipun atlet perempuan pada awalnya lebih memiliki spesialisasi untuk berlomba pada kategori foil. Perlombaan anggar berlangsung dalam kategori perorangan dan beregu. Untuk anggar beregu, setiap regu terdiri atas tiga hingga empat atlet. Pada awal perkembangannya seorang atlit anggar turun bertanding di dalam ketiga kategori.