Wednesday, November 15, 2017

Charlemagne, Inspirasi Pemimpin Besar Eropa

Charles the Great (Charlemagne) adalah Raja Frank sejak tahun 768, Raja Lombardi sejak tahun 774, dan Kaisar Romawi sejak tahun 800 (Becher, 2005: 96). Menurut Becher (1992: 37-60) ia lahir pada tanggal 2 April tahun 742. Charles, demikian namanya, merupakan anak dari Pepin the Short dan Bertrada of Laon (Barbero, 2004: 12).

Charlemagne dapat dikatakan sebagai orang pertama yang menjadi Kaisar Jerman. Bergelar Charles I (Karls I), ia bertahta pada Abad Pertengahan dan mengawali unifikasi Jerman yang kemudian diteladani oleh Otto von Bismarck (Beyens, 1916: 192). Oxford Dictionary menyebutkan Charlemagne sebagai "pelopor kerajaan di Eropa Barat. Ia mulai bertakhta pada tahun 800 atas Romawi didukung oleh kepausan abad pertengahan sebagai salah satu usaha mendirikan sebuah kerajaan Kristen di bawah kekuasaan tunggal." (Macdonald, 2015: 9). Lebih lanjut, Macdonald (2015: 58) mengutip pernyataan Otto von Habsburg mengenai pengaruh dan warisan dari Charlemagne bagi Kekaisaran Romawi Suci, sebagai berikut:

"We do possess a European symbol which belongs to all nations equally. This is the crown of the Holy Roman Empire, which embodies the tradition of Charlemagne."

Para pendiri Uni Eropa (EU) dan banyak pemimpin Eropa pada era kekinian juga menakui bahwa tujuan puncak dari Uni Eropa ialah hidup "dengan warisan Kekaisaran Romawi Suci". Para politisi Eropa berulang kali menyerukan pujian mereka bagi Charlemagne dan secara terang-terangan mengakui bahwa mereka tengah berusaha untuk menciptakan sebuah Eropa bersatu yang "melekat pada tradisi Charlemagne." (Macdonald, 2015: 9).

Charlemagne menduduki tahta kerajaan Frank dan membawanya ke puncak kejayaan. Sebelum era Charlemagne, peta politik di benua Eropa terpecah-pecah. Jerman sendiri terbagi oleh banyak suku yang berlainan. Charlemagne yang memiliki hubungan dekat dengan kepausan melakukan perubahan besar dengan melakukan ekspansi dengan tujuan menyatukan bagian-bagian tersebut. Usahanya tentu saja diwarnai dengan pertumpahan darah. Charlemagne berkeyakinan bahwa ekspansi yang dilakukannya ialah untuk membela gereja. Pada tahun 774, atas permintaan dari Paus Leo III, ia bergerak ke bagian utara Italia untuk penaklukan kerajaan Lombard, kemudian membuat sejarah dengan menyatukan Italia untuk pertama kalinya di dalam beberapa abad. Pada tahun 799, sekali lagi Charlemagne mendapatkan dukunga dari paus, yang sebelumnya menjadi korban tindak kekerasan dan dimasukkan ke dalam penjara oleh konspirasi sejumlah orang. Charlemagne akhirnya mendapatkan balasan setimpal dari paus. Bertempat di Gereja St. Peters, Charlemagne  dilantik oleh paus sebagai "Kaisar ke-73 Kekaisaran Dunia Keempat" (Flurry et al., 2013).

Di dalam artikel "Wars of Charlemagne" (Wars and Warfare, 12 November 2017) disebutkan bahwa pada masa kekuasaanya (768-814) Charlemagne menjalani 54 aksi  militer. Usaha ekspansi dilakukan hingga mencapai kerajaan Frank. Pencapaian militer dan politik yang diraih oleh Charlemagne dinilai sebagai kunci baginya untuk mendapatkan gelar "raja Romawi Suci (emperor of the Holy Romans)" dari kepausan. Pemberian gelar tersebut dilakukan pada Hari Natal tahun 800. 

Komposisi dan peralatan/persenjataan yang dimiliki oleh tentara milik Charlemagne mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu. Pada awalnya, Tentara Carolingian didominasi oleh pasikan infanteri. Mendekati masa peperangan, di mana tentara harus semakin menjauh dari markas besarnya di Austrasia, Charlemagne menambah kekuatan dengan membentuk pasikan kavaleri. Periode 792-793 ditandai dengan ditetapkannya regulasi yang mewajibkan vassal-vassal untuk memiliki kuda, perisai (tameng), tombak, pedang, pisau/belati, busur panah, quiver, dan anak panah. 

Meskipun ekspansi dilakukan ke berbagai penjuru di wilayah Eropa, Charlemagne lebih berhasil melancarkan serangan ke Timur (arah Jerman). Pada tahun 787 ia menduduki Bavaria. Pendudukan atas Jerman berlanjut hingga ke wilayah Frisia dan Saxon di bagian Utara antara Sungai Rhine dan Sungai Elbe. Berkenaan dengan Saxon, daerah ini menjadi lawan yang paling sulit bagi Charlemagne. Ia memerlukan waktu 30 tahun untuk menaklukannya. Total, Charlemagne menjalani 18 kali pertempuran menghadapi Saxon.

Kunci keberhasilan militer Charlemagne yang dapat dijadikan inspirasi bagi militer-militer lain setelah era itu adalah penekanannya pada satuan kavaleri sebagai instrumen bagi mobilitas strategis. Kavaleri pada waktu itu, meskipun didukung oleh pasukan tombak yang jumlahnya terbatas, Charlemagne bersikap konsisten dengan strateginya dan taktiknya pada saat menjalani pertempuran dengan tidak melakukan perubahan berarti. 

Charlemagne memberikan inspirasi yang kuat bagi sejumlah pemimpin besar di Eropa pada era setelahnya. Bahkan setelah ratusan tahun ia meninggal, kehidupan dan kinerja yang dijalani oleh Charlemagne tetap bertahan sebagai tolok ukur. Mahkota Kekaisaran Romawi Suci, yang diprakarsai oleh Otto the Great pada akhir abad ke-10, dinamakan sebagai Mahkota Charlemagne (Crown of Charlemagne). Napoleon dianggap sebagai "kelahiran kembali Charlemagne". Adolf Hitler juga sangat terpengaruh oleh visi Eropa yang dimiliki oleh Charlemagne. Third Reich bahkan membangun sebuah gedung yang ia namakan sebagai Kehlsteinhaus (Sarang Elang) di puncak Kehlstein, yang menurut cerita legenda menjadi tempat persemayaman sementara bagi Charlemagne (Macdonald, 2015: 58-59), untuk kemudian bangkit kembali pada suatu masa.

Referensi:

Barbero A. (2004). Charlemagne: Father of a Continent. California, United States: University of California Press.
Becher M. (1992). Neue Ueberlegungen zum Geburstdatum Karls des Grossen. In: Francia 19/1, 1992, pp. 37-60.
Becher, M. (2005). Charlemagne. Connecticut, United States: Yale University Press.
Beyens B. (1916). Germany Before the War. London, Great Britain: Thomas Nelson and Sons, Ltd.
Flurry G., Flurry S., Thompson J. (2013). Germany: and the Holy Roman Empire. Philadelphia, United States: Philadelphia Church of God.
Macdonald B. (2015). The Holy Roman Empire in Prophecy. Philadelphia, United States: Philadelphia Church of God.
Wars of Charlemagne. Weapons and Warfare, 12 November 2017. Diakses pada tanggal 13 November 2017 dari https://weaponsandwarfare.com/2017/11/12/wars-of-charlemagne/?wref=tp

Sunday, October 29, 2017

Alexander the Great, Top Toping Njuwari

0 comments
Tatkala Alexander III Macedon berumur 10 tahun, ia berhasil menjinakkan seekor kuda yang tengah mengamuk. Tindakannya tersebut disaksikan langsung oleh ayahnya, Raja Philip II.
Alexander mengawali petualangan sebagai panglima perang ketika berusia 16 tahun. Ia membantu sang ayah meredam pemberontakan di Thrakia. Daerah tersebut kem

Friday, May 26, 2017

Invasi Tyre Oleh Alexander Agung

0 comments

Tyre pada masa itu menjadi kota penting, bukan hanya bagi Phoenicia, melainkan pula bagi dunia, khususnya di dalam kegiatan maritim. Alexander membaca situasi bahwa jika kota ini dapat direbut maka misinya untuk menduduki Mesir dan Babylonia akan terlaksana. Para duta besar Tyre mencoba bernegosiasi agar kota tersebut bebas dari kekuasaan pihak manapun. Namun Alexander sepertinya tidak sependapat.

Referensi:
Patrick S. 2013. Alexander the Great: The Macedonian Who Conquered the World.

Tuesday, May 16, 2017

Lensa Kontak

0 comments

Lensa kontak telah digagas sejak awal abad ke-16 oleh Leonardo Da Vinci. Pada tahun 1508 Da Vinci mengutarakan sebuah konsep mengenai lensa kontak. Ia berpendapat bahwa optik dari mata manusia dapat dirubah dengan kontak mata langsung dengan air. Setelah hampir tiga abad tidak terjadi perkembangan berarti, lensa kontak dibicarakan kembali oleh John Herschel pada tahun 1823. Herschel memperkenalkan konsep tentang model cetakan dari
mata manusia. Model cetakan tersebut akan mempermudah produksi lensa yang sesuai jika dipasang pada permukaan mata bagian
depan. Akan tetapi, realisasi dari pemikiran Herschel baru dilakukan 50 tahun kemudian oleh F. A. Muller. Dengan mempergunakan gagasan Herschel, ia merancang lensa kontak pertama kali pada tahun 1887 dengan temuan lensa kontak yang terbuat dari bahan kaca yang berukuran selebar mata, sehingga jika dipasang akan menutupi seluruh permukaan mata bagian depan. Setahun kemudian, Adolf E. Fick dan Edouard Kalt merancang dan mempraktekkan pemasangan lensa kontak pada mata untuk membantu penglihatan.

Sumber lain menyebutkan bahwa pada tahun 1801 Thomas Young mendesain lensa kasar (crude lense) dari bahan baku lilin dan air dengan mempergunakan sejumlah teori tentang model-model masa depan yang kemudian diterapkan oleh beberapa ilmuwan lain, misalnya Istvan Komaromy
pada tahun 1929, untuk menyempurnakan metode pembuatan model cetakan dari mata yang sesungguhnya

Memasuki abad ke-20, William Feinbloom memperkenalkan lensa plastik yang ringan dan nyaman pada tahun 1939. Pada awal Perang Dunia II pada tahun 1939, keberadaan lensa kontak kaca mendapatkan pesaing berupa lensa kontak yang terbuat dari bahan plastik. Desain tersebut bertahan hingga tahun 1948 dengan inovasi lensa yang memiliki ukuran yang lebih kecil, yakni hanya
menutupi kornea mata. Setahun berselang, 1949, lensa kornea (corneal lenses) diperkenalkan. Lensa ini dapat dipasang pada mata selama 16 jam tiap hari, namun bahannya mudah rusak dan harganya mahal.

Soft contact lense pertama kali dipopulerkan pada tahun 1971. Delapan tahun kemudian (1978) pengembangan dilakukan dengan model baru yang disebut dengan GP contact lenses. Penggunaan lensa kontak pada mata memiliki batasan waktu, misalnya, pengguna lensa tidak disarankan untuk mengenakannya pada waktu tidur. Barulah pada tahun 1981 FDA menyetujui penggunaan lensa kontak dalam jangka waktu yang lebih lama. Namun secara umum pemasangan GP contact lenses
dengan jangka waktu lebih lama baru dipraktekkan pada tahun 1986. Perkembangan selanjutnya ialah berupa disposable soft contact lenses pada tahun 1987, diikuti dengan diperkenalkannya generasi terbaru lensa kontak GP yang terbuat dari bahan fluorosilicone acrylate.

Kurang lebih satu dekade berselang, tahun 1996 ditandai dengan munculnya one-day disposable soft lenses. Jenis lensa ini dapat dipergunakan selama satu hari kemudian setelah itu dapat dibuang dan diganti dengan yang baru.

Inovasi lensa kontak terus berlangsung hingga millennium kedua. Pada tahun 2002 produsen lensa kontak memasarkan silicone-hydrogel contact lenses. Bersamaan dengan momentum itu, FDA
mengeluarkan ijin penggunaan lensa kontak jenis overnight orthokeratology.

Referensi:
1. Contact Lense Manufacturers Association (CLMA). "A Brief History of Contact Lense". Diakses dari
http://www.contactlenses.org/, pada tanggal 10 Mei 2017.
2. Heiting G. "When Were Contact Lenses Invented?". Diakses dari http://www.allaboutvision.org/,
pada tanggal 10 Mei 2017.
3. "History of Contact Lenses". Diakses dari http://glasseshistory.com/glasses-history/history-of-
contact-lenses/, pada tanggal 11 Mei 2017.

Monday, May 8, 2017

Kerajaan-kerajaan di India Utara Abad VI SM

0 comments

Pada awal abad ke-6 sebelum masehi India bagian Utara terbagi ke dalam banyak kerajaan independen. Bentuk pemerintahan yang diterapkan adalah monarki dan republik. Pemerintahan monarki mendominasi wilayah di dataran di sekitar Sungai Gangga, sedangkan pemerintahan republik dijalankan oleh negara-negara di  kaki pegunungan Himalaya.

Wednesday, November 2, 2016

Kronologi Perang Pasifik, Bagian I (1941-1942)

Kronologi Perang Pasifik [1]

Tahun 1941
07 Desember: Tentara Jepang mendarat di Thailand dan Malaya. Serangan terhadap Hong Kong.
07 Desember: Serangan terhadap Pearl Harbor.
08 Desember: Kapal Perang Inggris, "Prince of Wales" dan "Repulse", tenggelam. Tentara Jepang mencapai Luzon, Filipina.
11 Desember: Pertempuran merebut wilayah Jitra, Malaya, dimenangkan oleh Jepang.
17 Desember: Pihak Inggris menarik diri menuju ke Sungai Perak, Malaya.
22 Desember: Kekuatan utama tentara Jepang menguasai Luzon, Filipina.
23 Desember: Penaklukan Pulau Wake. Tentara Amerika Serikat dipukul mundur dan lari ke Bataan, Filipina.
25 Desember: Penaklukan atas Hong Kong.
26 Desember: Tentara Jepang memblokade jalur Sungai Perak.

Tahun 1942
07 Januari: Tentara Inggris menuju ke persimpangan Sungai Slim.
10 Januari: Tentara Jepang mulai mendarat di Indonesia bagian Utara yang dikuasai Belanda.
11 Januari: Jepang menduduki Kuala Lumpur, Malaya.
14 Januari: Divisi Australia menjebak tentara Jepang di Gemas.
15 Januari: Pertempuran di simpang Sungai Muar, tentara Australia dipukul mundur.
20 Januari: Tentara Selatan Jepang menginvasi Burma.
21 Januari: Jepang mengebom New Guinea.
30 Januari: Inggris dipukul mundur dan lari ke Singapura.
14 Februari: Jepang mendarat di Sumatera.
15 Februari: Penaklukan Singapura. Inggris mengalami kekalahan besar.
17 Februari: Jepang mendarat di Bali.
27 Februari: Pertempuran Laut Jawa. Angkatan Laut Sekutu takluk.
29 Februari: Jepang mendarat di Jawa.
21 Maret: Jepang memperluas pendudukan hingga Burma bagian tengah.
05/09 April: Kapal Jepang menyerang Ceylon (Sri Lanka).
08 April: Bataan takluk. Amerika Serikat mengalami kekalahan besar.
18 April: Serangan Doolittle terhadap Tokyo.
03 Mei: Operasi Tulagi-Moresby. Pertempuran Laut Coral.
05/06 Mei: Jepang memasuki wilayah Cina dari Burma. Serangan dan Penaklukan Corregidor.
20 Mei: Inggris mundur sepenuhnya dari Burma.
4 Juni: Pertempuran Midway. Jepang mengalami kekalahan besar.
21 Juli: Jepang mendarat di Buna, New Guinea.
07 Agustus: 1st Marine Division mendarat di Guadalcanal.
08/09 Agustus: Pertempuran laut di Pulau Savo.
20 Agustus: Angkatan Udara Amerika Serikat mulai mendarat di Guadalcanal.
23 Agustus: Pertempuran laut di Kepulauan Solomon Timur
11 September: Tentara Australia menahan serangan Jepang terhadap Port Moresby, New Guinea.
11/12 Oktober: Pertempuran laut di Cape Esperance.
24 Oktober: Pertempuran laut Santa Cruz.
12/13 November: Pertempuran Laut I untuk merebut Guadalcanal.
13/14 November: Pertempuran Laut II untuk merebut Guadalcanal.
30 November: Pertempuran laut Tassafaronga.
21 Desember: Tentara Inggris masuk kembali ke Burma.

Peta Guadalcanal (1942) [2]


Referensi:
[1] The Pacific War: A World War II Summary; War Events Summary [http://www.wtj.com/articles/pacific_summary/timeline.htm]. Diakses tanggal 2 November 2016.
[2] Map of WWII: The Guadalcanal Campaign 1942.

Wednesday, March 9, 2016

Creighton Williams Abrams, Jr.

Creighton William Abrams, Jr. lahir di Springfield, Massachusetts, Amerika Serikat, pada tanggal 15 September 1914. Ia menyelesaikan pendidikan U.S. Military Academy, West Point, pada tahun 1936 dan tugas pertamanya menjadi anggota 7th Cavalry Regiment di Fort Bliss, Texas. Abrams promosi pangkat sebagai kapten pada tahun 1940.

Pengakuan pertama sebagai seorang profesional untuk Abrams ialah saat ia berpangkat letnan kolonel dan menjadi komandan sebuah batalion tank yang menjadi ujung tombak Third Army (di bawah pimpinan Jenderal George Patton) dalam operasi di berbagai tempat di Eropa. Creighton Abrams memimpin pasukan di tapal batas Jerman untuk ikut membantu 101st Airborne Division yang dikepung oleh tentara Jerman di Bastogne pada tanggal 16 Desember 1944, tepatnya saat terjadi Pertempuran Bulge (Battle of the Bulge). Atas keberhasilan tersebut Abrams naik pangkat menjadi kolonel.

Pasca Perang Dunia II, Creighton Williams Abrams, Jr. menjabat sebagai direktur taktik pada Armor School, Fort Knox periode 1946-1948, dan Chief-of-staff  I, X, dan IX Corps di Korea periode 1953-1954. Karir selanjutnya bagi Abrams adalah Army General Staff bersamaan dengan promosinya menjadi brigadir jenderal pada tahun 1956, kemudian naik pangkat lagi menjadi mayor jenderal pada tahun 1960.

Pada periode 1960-1962 Creighton Abrams menjabat sebagai komandan 3rd Armored Divison di Jerman, sebuah pos penting selama berlangsungnya Perang Dingin. Setelah memimpin pasukan yang menghalau kerusuhan demonstrasi hak-hak sipil di Mississippi (1962-1963), Abrams dipromosikan sebagai letnan jenderal dan mengambilalih pucuk pimpinan V Corps. Pada pertengahan tahun 1964 ia dipanggil kembali ke Eropa dan naik pangkat sebagai jenderal, sekaligus menduduki jabatan Vice Chief-of-Staff Angkatan Darat. Selanjutnya bulan Mei 1967 bertugas ke Vietnam sebagai deputi komandan bagi Jenderal William C. Westmoreland. Konsentrasinya tertuju pada pemantapan angkatan bersenjata yang bertugas di Vietnam Selatan. Pada saat terjadi Tet Offensive bulan Januari 1968 pasukan yang dipimpin oleh Abrams menunjukkan hasil yang lebih memuaskan bagi Amerika Serikat.

Jenderal Creighton Williams Abrams, Jr. meninggal pada tanggal 4 September 1974 di Washington, D.C. akibat penyakit kanker. Kontribusi terakhirnya ialah mereformasi angkatan bersenjata Amerika Serikat yang kelak menunjukkan hasilnya dalam Perang Teluk Persia pada tahun 1991.

Referensi:
Tucker, S. C. (ed). 2015. 500 Great Military Leaders, Vol. I: A-K. Oxford: ABC-CLIO, LLC