Tuesday, May 15, 2018

Pertempuran Cannae 1018

Pertempuran Cannae (Battle of Cannae) merupakan sebuah peristiwa bentrok bersenjata antara Bizantium dan Longobardi yang terjadi pada tahun 1018. Di dalam pertempuran tersebut Byzantium dipimpin oleh Basil Boioannes, sedangkan Longobardi dipimpin oleh Melo di Bari (Beeler, 1971: 65-66). Battle of Cannae diwarnai oleh keterlibatan pasukan kavaleri dari Normandia yang dipimpin oleh Gilbert Bautere, pada pihak Longobardi (Theotokis, 2014: 3). 

Perlu diketahui bahwa Pertempuran di Cannae ini merupakan yang kedua di dalam sejarah wilayah itu. Jauh sebelumnya Cannae pernah menjadi lokasi pertempuran besar pada masa Perang Punic Kedua pada tahun 216 Sebelum Masehi sebagai rangkaian peperangan antara tentara Carthagia dan tentara Republik Romawi. 

Keterlibatan Normandia ialah dalam rangka untuk menaklukkan wilayah Italia bagian Selatan. Puncak pertempuran terjadi pada bulan Oktober 1018. 

Latar belakang pertempuran ini ialah keputusan Raja Normandia, Richard I, yang mengusir dan mengasingkan seorang bangsawan Normandia bernama Osmond Drengot karena melakukan pembunuhan terhadap salah satu saudaranya, Osmond. Richard I juga mengusir Gilbert Buatere dan Rainulf Drengot, yang akhirnya terpaksa hidup mengembara. Mereka kemudian menuju ke tempat persembahan Saint Michael yang berada di Monte Sant'Angelo sul Gargado, di wilayah Byzantium yang berada di Italia. 

Pada tahun 1016 kelompok pengembara Normandia tersebut direkrut oleh Melo di Bari untuk mendukung kekuatan Longobardi. Melo di Bari adalah seorang pemberontak Byzantum. Usaha perlawan terhadap Byzantium dimulai pada tahun 1017; Melo menjamin bahwa strategi mereka akan berhasil membuat kejutan untuk pihak Byzantium. Pasukan gabungan Longobardi/Normandia bergerak menuju ke Selatan ke arah Capua dan kemudian dilanjutkan ke Apulia. 

Pada pihak lawan Basil Boiannes menghimpun kekuatan besar yang didukun goleh Varangian Guard yang dikirimkan oleh Raja Basil II. Kedua pihak yang bersengketa bertemu di Sungai Ofanto, tempat di mana pasukan Romawi ditaklukkan oleh pasukan Carthagia pada tahun 216 SM.

Perkiraan Melo di Bari ternyata meleset. Pasukan mereka kalang kabut oleh serangan Byzantium. Melo di Bari melarikan diri menuju Negara Kepausan dan kemudian menuju ke Raja Romawi Suci, Henry II. Sementara itu, Gilbert Buatere terbunuh di tengah pertempuran. Pada akhir pertempuran tersebut hanya terdapat 10 orang kesatria Normandia yang selamat, termasuk Rainulf (byzantium.xronikon.com, 15 Mei 2018).


Referensi:
Beeler J. 1971. Warfare in Feudal Europe, 730-1200. New York, Amerika Serikat: Cornell University Press.
Byzantine Battles. Diakses dari https://www.byzantium.xronikon.com/battle.php?byzbat=c11_03, pada tanggal 15 Mei 2018.
Theotokis G. 2014. The Norman Campaigns in the Balkans, 1081-1108. Cambridge, Britania Raya: Boydell & Brewer.

Monday, May 14, 2018

Catatan Sulayman: Ekspedisi Sriwijaya ke Khmer

Ekspedisi Raja Sriwijaya menuju Kerajaan Khmer (Kamboja) ini diceritakan oleh seorang pedagang berkebangsaan Arab yang bernama Sulayman. Pada saat kejadian berlangsung Sulayman tengah melakukan perjalanan dari Arab menuju Cina.  

Terdapat kemungkinan bahwa pada abad ke-8 armada Sriwijaya menyerbu pantai Annam (Champa) dan memasuki wilayah hingga Kamboja. Sebuah prasasti di Champa berangka tahun 787 menyebutkan bahwa balatentara Jawa (ditulis 'Java', bukan 'Yava') menuju ke Kamboja melalui jalan laut dan membakar kuil persembahan Shri Bhadradhipatishvara. Java di sini diartikan Sriwijaya, bukan Jawa karena oleh pihak asing sebutan Java pada saat itu diberikan untuk Java dan Sumatera. Kamboja juga diduduki dari jalur darat. Hal tersebut dikemukakan oleh riwayat dari seorang pengembara dari Arab pada abad ke-9. Suleyman, pedagang Arab, mengadakan perjalanan ke India dan Cina, dan tulisannya berangka tahun 851. Tulisannya ditanggapi oleh Abu Zayd Hassan pada sekitar tahun 916. Di dalam penggambarannya mengenai kerajaan Zamaj (atau Sribuza -- nama Arab untuk Sriwijaya) disebutkan sebagai berikut: "Raja (atau Zabai) dikenal dengan gelar Maharaja.... Ia berkuasa atas banyak pulau. Pulau-pulau Sribuza, Rami (Ramini adalah nama lain dari Sumatera -- nampak bahwa pengembara Arab tidak mengetahui bahwa Zabaj, Sribuja dan Rami kesemuanya berada di Sumatera) berada di bawah kekuasaan Maharaja.... Kerajaan maritim Kalah (Kra) juga mengakui kekuasaannya.... Pulau miliknya sendiri sangatlah subur dan berpenduduk banyak sekali." Selanjutnya Sulayman menjelaskan sebuah kebiasaan aneh Maharaja. Setiap pagi, penasehat keuangan membawakan sebuah batangan emas ke hadapan Raja. Bentuknya menyerupai batu bata. Pemberian tersebut kemudian dilemparkan ke dalam sebuah danau yang berada di dekat istana. Sepanjang hidupnya raja tidak boleh menyentuh batang-batang emas tersebut. Pada saat ia mangkat penggantinya akan mengangkat kembali batang emas tersebut dari dasar danau. Setelah dihitung dan ditimbang batang-batang emas tersebut akan dibagi-bagikan kepada anggota keluarga kerajaan, para jenderal, pelayan dan orang miskin. Jumlah batangan emas dan berat totalnya kemudian dituliskan ke dalam catatan resmi dan prestise seorang raja akan bergantung pada jumlah batangan emas yang ia tinggalkan di dasar danau. 

Selanjutnya Sulayman menjelaskan tentang Khmer (nama lokal dari Kamboja) sebagai berikut: 

"Menurut tulisan-tulisan Zabaj pada suatu hari terdapat seorang raja Khmer. Khmer adalah negara yang mengekspor aloe Khmer. Kerajaan tersebut bukanlah sebuah pulau dan tidak ada kerajaan yang memiliki penduduk lebih banyak daripada Khmer (Kamboja).... Semua jenis minuman keras dan setiap jenis pelanggaran dilarang di sini; di kota-kota yang mengelilingi kerajaan orang tidak akan dapat menemukan satupun orang yang boleh berbuat melanggar moral.... Antara Khmer dan Zabaj jarak waktu tempuhnya adalah antara 10 dan 20 hari melalui jalur laut, bergantung cuacanya." 

Diceritakan bahwa pernah terdapat seorang raja di Khmer yang berusia muda dan 'ceroboh'. Suatu hari ia duduk di istana, memegang perintah tertinggi di dekat bantaran sebuah sungai yang menyerupai Sungai Tigris (jarak antara istana dan laut memerlukan satu hari perjalanan) dan ia dibantu oleh menteri. Ia sedang mengadakan diskusi dengan menterinya tentang kebesaran kerajaan Maharaja dari Zabaj, jumlah pulau yang dikuasainya, dsb., pada saat raja mengatakan bahwa ia memiliki hasrat yang harus dipenuhi. Menteri, yang mengetahui bagaimana 'ceroboh'-nya sang raja menanyakan keinginan raja itu apa. Raja menjawab: 

"Aku berkeinginan melihat kepala Maharaja Zabaj diletakkan di atas nampan."

Menteri memahami bahwa keinginan tersebut berbasis pada kecemburuan.

"Saya tidak berkeinginan mendengarkan keinginan Paduka itu. .... Kerajaan Zabaj berada jauh sekali dari wilayah kita. Mereka tidak memiliki keinginan untuk menyerang Khmer..... Tidak seorangpun yang dapat memendam keinginan seperti yang dikemukakan oleh Paduka dan Paduka tidak boleh mengatakannya kepada siapapun." 

Raja menjadi tidak senang dengan menterinya dan mengabaikan himbauan dari menteri tersebut dengan memerintahkan penasihat kerajaan untuk memberitahukan keinginannya kepada para jenderal dan semua bangsawan yang hadir di dalam pertemuan di istana.

Berita tersebut mengalir dari mulut ke mulut hingga tersebar ke mana-mana, sehingga sampai ke pihak Maharaja Zabaj. Ia adalah seorang raja yang enerjik, aktif, dan berpengalaman. Ia memanggil menteri, memberitahukan apa yang telah ia dengar dan kemudian menambahkan bahwa ia harus mengambil sejumlah langkah setelah apa yang dikatakan oleh Raja Khmer di hadapan publik. 

Selanjutnya Maharaja memberitahukan secara diam-diam kepada menteri tentang persiapan penyerangan menuju Khmer. Ia meminta agar persiapan tersebut dirahasiakan. Kemudian, dipersiapkanlah ribuan kapal yang mengangkut sebanyak mungkin balatentara. Pihak kerajaan sekedar memberitahukan kepada masyarakat bahwa Maharaja akan mengadakan perjalanan ke pulau-pulau di wilayah kekuasaan Sriwijaya.... 

Raja Khmer tidak mencurigainya hingga Maharaja telah mencapai sungai yang menuju ke arah ibukota. Serangan mendadak tersebut membuat Raja Khmer tertangkap. Para penduduk Khmer melarikan diri sebelum ditangkap oleh penyerang dari Sriwijaya. Namun Maharaja telah mengumumkan bahwa tidak seorangpun akan mendapatkan perlakuan kasar. Kemudian ia menduduki tahta Khmer dan memerintahkan Raja Khmer beserta menterinya untuk mengabdi kepadanya. Maharaja meminta Raja Khmer untuk memberitahukan keinginannya. Raja Khmer tidak menjawabnya. Kemudian Maharaja berkata, 

"Engkau berharap melihat kepalaku di atas nampan. Jika engkau juga berharap untuk menyerang kerajaanku, maka aku juga akan melakukan hal yang sama terhadap kerajaanmu. Namun seperti yang kau kehendaki, yakni melihat kepalaku dipenggal, aku akan berkeinginan hal yang sama terhadapmu dan kemudian aku akan kembali ke negara asalku tanpa menyentuh apapun di wilayah Kerajaan Khmer.... Hal ini akan menjadi pelajaran bagi para penerusmu sehingga tidak seorangpun yang akan tergoda untuk melakukan tindakan-tindakan di luar kekuatannya." 

Kemudian kepala Raja Khmer dipenggal. Selanjutnya Maharaja berkata kepada menteri:

"Aku tahu sebaik apa nasihatmu kepada tuanmu. Memprihatinkan bahwa ia tidak memperhatikannya! Sekarang carilah seseorang yang dapat menjadi seorang raja yang baik setelah orang gila ini dan lantiklah ia menjadi raja." 

Kemudian Maharaja kembali ke kerajannya tanpa mengambil atau memperbolehkan siapapun untuk mengambil apapun dari Khmer.

Chatterjee B. R. (1933). India and Java. Part I (History). Calcutta, India: Prabasi Press. hal. 15-17.

Sunday, May 13, 2018

Pertempuran Italia-Yunani 1939-1941

Invasi Itali terhadap wilayah Yunani pada akhir tahun 1939 merupakan salah satu rangkaian usaha Axis Power untuk memperluas pengaruhnya di benua Eropa. Pada saat perang terjadi pada bulan September 1939, Yunani, di bawah pimpinan Jenderal Ioannis Metaxas, mengambil posisi netral. Pada dini hari tanggal 28 Oktober 1939, melalui duta besarnya yang berkedudukan di Athina, Mussolini memberikan ultimatum kepada Yunani. Metaxas menolak ultimatum tersebut. Pada jam 5:30 dua kesatuan Italia, yakni 11th Army dan 9th Army di bawah komando Jenderal Visconti-Prasca, bergerak meninggalkan pos di Albania menuju Yunani dengan mengambil rute pegunungan. Diikuti oleh tentara Albania dan relawan mereka menjalankan misi "pembebasan" orang Albania yang berada di Yunani.

Tentara tersebut menghadapi empat divisi tentara Yunani dari 1st Army. Meskipun di atas kertas pihak Yunani kalah dalam jumlah tentara (18.500 melawan 12.000-14.000), namun divisi mereka lebih banyak. Tentara Yunani memiliki artileri ringan dan sedang yang lebih efisien dan senapan api yang lebih banyak. Mereka berhasil menghambat serangan Italia dan kemudian pada tanggal 4 November 1939, 2nd Corps di bawah pimpinan Kolonel Papadopoulos melakukan serangan balasan terhadap 11th Army Italia yang dipimpin oleh Jenderal Gelsos. Tentara Yunani dari kelompok Macedonia ikut ambil bagian di dalam mengalahkan tentara elite Italia dari Divisi Pegunungan, yakni Iulia. 

Tentara Yunani berhasil merebut kembali wilayah-wilayah perbatasan dan mengusir Italia keluar dari negara tersebut dan melintasi tapal batas kembali ke Albania. Hingga pertentangan November Yunani telah memberangkatkan 11 divisi infanteri, dua brigade infanteri dan satu divisi kavaleri untuk menghadapi 15 divisi infanteri dan satu divisi tank Italia.

Para jenderal Mussolini telah memperingatkan Il Duce pada saat merencanakan serangan ke Yunani. Chief of Staff Marshal Pietro Badoglio meletakkan jabatan sebagai bentuk protes atas keputusan Mussolini untuk menyerang Yunani. Pada tanggal 4 Desember 1939, melalui Menteri Urusan Perang, Jenderal Ubaldo Soddu, Mussolini mengusulkan gencatan senjata dengan Yunani. 

Pada tanggal 23 Februari 1941 pemerintah Yunani di bawah pimpinan Alexandros Korizis menerima tawaran bantuan militer dari Inggris. Pihak Inggris mengirimkan kesatuan yang bernama "W Force" (di bawah komando Letnan Jenderal Maitland Wilson) yang berkekuatan 50.672 tentara dari Divisi Selandia Baru, dan 6th Division dan 7th Division dari Australia di bawah komando Letnan Jenderal Blamey. Selain itu, Yunani juga mendapatkan bantuan persenjatan dan artileri dari Komando Timur Tengah Jenderal Wavell yang berada di Mesir. Kesatuan Wavell tersebut merupakan bagian dari tentara yang bertempur melawan Italia di Afrika Utara. Di dalam Operation Lustre W Force menuju ke Yunani melalui jalur laut. Pada tanggal 4 Maret 1941 mereka mendarat di Piraeus. 

Sebelum bantuan dari sekutu Inggris-Australia-Selandia Baru tiba, Yunani telah menguasai pesisir pantai Porto Edda dan tiga kota, yakni Klisura, Koritsa, dan Posgradee. Mereka beranjak mencapai ibukota Albania, Tirana. Kapal-kapal selam dari Angkatan Laut Yunani bersiaga di perairan Adriatik dan menenggelamkan 18 kapal pengangkut Italia yang membawa perbekalan perang dari Albania.

Referensi:
Fowler W. (2003). The Balkans and North Africa 1941-1942. Blitzkrieg. Vol. 4. Surrey, Great Britain: Ian Allan Publishing.

Claudio Abbado

Claudio Abbado adalah seorang tokoh yang berkecimpung di dalam bidang musik. Ia berkarir sebagai seorang konduktor (conductor), atau kita mengenalnya pula dengan sebutan dirijen. Bakat musiknya mengalir dari keluarganya. Ayah Claudio, Michaelangelo Abbado, merupakan seorang pakar musik yang menjabat wakil kepala sekolah (vice-principal) pada sekolah musik Milan Conservatory. Bersama saudara laki-lakinya, Marcello, Claudio ikut belajar musik di sana. 

Claudio Abbado lahir di kota Milan, Italia, pada tanggal 26 Juni 1933. Karir musiknya ia mulai dengan menjadi seorang pianis. Selanjutnya ia belajar komposisi musik dengan Bruno Bettinelli, sebelum akhirnya pergi ke Wina, Austria, untuk belajar sebagai konduktor musik pada Hans Swarowsky. 

Pada tahun 1971 Claudio Abbado terpilih sebagai konduktor tetap Vienna Philharmonic. Pada tahun 1986 ia menjadi pengarah musik (music director) untuk kelompok orkestra di Vienna State Opera. Karirnya antara tahun 1969 dan 1986 juga diwarnai dengan perannya sebagai pengarah musik La Scala Opera House, Milan. Selama masa jabatannya tersebut ia memperpanjang musim La Scala dan melakukan presentasi karya Alban Berg, yakni Wazzeck, di dalam bahasa Jerman. Penyajian berbahasa Jerman tersebut menjadi inovasi bagi publik musik di Milan. 

Claudio juga menjalin hubungan dengan London Symphony Orchestra, Chicago Symphony, dan European Community Youth Orchestra. Kemudian, pada tahun 1989 ia terpilih sebagai pengarah musik Berlin Philharmonic.

Referensi:
Lorimer L. T. (1995). abbado, claudio. Grolier Family Encyclopedia. Connecticut, United States: Grolier Inc. p. 45.

Wednesday, February 28, 2018

Menyusuri Awal Keberadaan Sandal

Pada jaman sekarang ini sepertinya semakin sedikit kita menjumpai orang yang tidak mengenakan alas kaki di dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, dalam arti beraktivitas tanpa alas kaki secara terus-menerus. Dengan alasan menjaga kesehatan, kebersihan, atau melindungi dari bahaya cidera, berbagai bentuk alas kaki telah diperkenalkan seiring dengan perkembangan teknologi. Terlepas dari perubahan yang terus terjadi terdapat satu jenis alas kaki yang senantiasa mewarnai kehidupan keseharian kita, yakni sandal. Jika alas kaki berupa sepatu kita kenakan di dalam keadaan-keadaan khusus, misalnya berolahraga, bersekolah, atau bekerja, sandal memiliki fungsi yang lebih luas. Sandal lebih erat hubungannya dengan keadaan santai. Orang mengenakan sandal untuk melindungi kakinya namun ia merasa lebih bebas dibandingkan pada saat mengenakan sepatu. 

Keberadaan sandal sebagai alat kaki telah dikenal semenjak jaman Mesir Kuno, yakni sejak kira-kira tahun 3000 Sebelum Masehi. Pada jaman itu alas kaki menunjukkan lingkungan fisik di mana bangsa Mesir berada dan kepercayaan serta praktek sosial dan budaya bangsa tersebut. Bangsa Mesir kuno mengenal sandal dalam bentuk anyaman yang terbuat dari bahan tumbuhan, seperti daun papyrus dan serat palem. Bentuk sandal ini ditengarai sebagai pelopor keberadaan alas kaki di Mesir. Orang-orang di sana mengenakan sandal untuk menjaga agar kaki merasa sejuk dan melindungi kaki dari sengatan panas pasir gurun. Perkembangan teknologi membuat orang berinovasi dengan memperkenalkan sandal yang terbuat dari gabungan kulit binatang, serat tumbuhan, dan kayu. 

Sandal bagi Bangsa Mesir menunjukkan perbedaan kelas sosial. Para firaun mengenakan sandal yang bergambar musuh-musuh mereka pada bagian alas. Mereka berangkapan bahwa dengan menaruh gambar musuh pada bagian alas ia berarti dapat menginjak-injak harga diri musuhnya tersebut. Dengan kata lain, sandal bagi firaun dipergunakan pula untuk mendiskreditkan musuh. Pada waktu itu hanya kalangan elite yang boleh mengenakan sandal yang diberi hiasan dan hanya firaun dan para penasihat kerajaan yang boleh mengenakan sandal bertatahkan emas atau perhiasan. Sementara itu warga terhormat dapat mengenakan sandal dengan warna-warna pastel, sedangkan warga kelas menengah mengenakan sandal berwarna merah dan kuning. Warga biasa di kalangan bawah atau budak tidak diperbolehkan mengenakan alas kaki. 

Beralih ke kebudayaan Mesopotamia, yang meliputi bangsa Assyria, Babylonia, dan Sumeria, yang berdomisili di lembah antara Sungai Tigris dan Sungai Euphrate, sandal yang dikenakan oleh orang-orang di daerah itu terbuat dari kulit yang dipasangi pegangan untuk ibu jari dan penyangga tungkai. Model sandal seperti ini barangkali dikenal sejak tahun 2600 SM. Bangsa Assyria dan Babylonia mengenal penyamakan kulit dari bangsa Sumeria dan mengenakan sandal yang tidak jauh berbeda. 

Bagi bangsa Yahudi, yang juga berasal dari kebudayaan Mesopotamia pada sekitar tahun 1900 SM dan tinggal di Mesir serta daerah di sekitar wilayah Israel saat ini, sandal berfungsi sebagai penunjuk identitas sosial. Pada waktu itu orang dianggap sangat miskin jika tidak mengenakan sandal pada saat beraktivitas di luar ruangan. Perubahan bentuk sandal terjadi pada saat Romawi mulai melakukan invasi. Sandal gaya Mesopotamia kemudian diganti oleh sandal gaya Romawi, yakni terbuat dari kayu, kulit atau pelepah palem yang dilengkapi dengan tali untuk mengikat ibu jari. Sandal yang dikenakan oleh perempuan kaya dihiasi dengan applique, kerang atau perhiasan. 

Sandal juga mewarnai perkembangan kebudayaan Yunani Kuno, bermula dari Kebudayaan Minoa Crete dan berlanjut hingga era kebudayaan Mycenae. Orang Minoa dari kelas atas mengenakan sandal untuk kegiatan di luar ruangan. Sandal tersebut berbetuk sangat sederhana yang diikatkan dengan tali pada kaki. Seperti halnya di Mesir, masyarakat biasa dari kelas bawah Yunani Kuno tidak lazim mengenakan sandal di dalam kegiatan sehari-hari mereka.  

Demikianlah beberapa dari sekian banyak sejarah perkembangan sandal sebagai alas kaki. Kiranya antara satu kebudayaan dan kebudayaan lainnya memiliki karakteristik tersendiri dalam penggunaan sandal baik  sebagai alas kaki semata maupun sebagai simbol status sosial dan ekonomi orang yang mengenakannya.

Di dalam sejarahnya sandal pernah menduduki tempat yang terhormat, dalam arti bahwa tidak setiap orang boleh atau layak mengenakannya. 


Referensi:
DeMello M. (2009). Feet and Footwear: A Cultural Encyclopedia. Oxford, United Kingdom: Greenwood Press. hal. 67-69.

Konflik Georgia-Ossetia Selatan

maps.google.com

Ossetia Selatan merupakan sebuah wilayah yang terdapat di kawasan Kavkaza (Caucasus) yang hingga saat ini belum diakui secara internasional sebagai negara berdaulat (sovereign country). Bangsa Ossetia Selatan memiliki nenek moyang bangsa Iran yang diturunkan oleh bangsa Scythia dan Sarmatia. Pada abad pertengahan mereka menghuni daerah selatan Rusia. Keberadaan bangsa Osetia Selatan dari waktu ke waktu dipertanyakan oleh bangsa Georgia, yang menganggap mereka sebagaii orang asing yang berpindah tempat dari Kavkaza Utara. Ossetia Selatan secara historis merupakan bagian dari wilayah Georgia. Oleh orang Georgia daerah tersebut dinamakan Samochablo yang diberikan kepada bangsa Ossetia oleh Bolsheviks sebagai imbalan bagi kontribusi mereka pada saat Soviet menduduki wilayah Republik Georgia pada tahun 1920. Namun sebaliknya, bangsa Ossetia berpendapat bahwa secara historis baik Ossetia Selatan maupun Ossetia Utara (yang berada di dalam wilayah Rusia) adalah bagian dari keturunan yang sama, yakni Skifs-Sarmat-Alan. Pada periode tahun 1918-1920 manakala Georgia mendapatkan kemerdekaan bersama beberapa republik di Caucasus Selatan, Ossetia Selatan juga berusaha untuk memerdekakan diri, namun tidak berhasil. Pada tanggal 20 April 1922, ketika Soviet mulai berkuasa atas Georgia, Ossetia Selatan ditetapkan sebagai daerah otonom di dalam wilayah Georgia. Keputusan ini tidak diterima oleh kedua belah pihak; bangsa Georgia tidak menyetujui keputusan Soviet tersebut karena menghawatirkan potensi adanya batas wilayah negara yang semu, sedangkan bangsa Ossetia Selatan mengungkapkan ketidakpuasan terhadap status otonomi karena cara tersebut menyebabkan wilayah mereka terpisah dari Ossetia Utara.

Namun demikian, ketidaksenangan Ossetia Selatan terhadap status otonomi tersebut tidak menyebabkan munculnya sikap anti Georgia (Georgiaphobia). Menurut sensus yang berlangsung selama era Soviet pada tahun 1989 Ossetia Selatan memiliki jumlah penduduk sebanyak 98.500 jiwa, di mana 28.500 orang di antaranya adalah bangsa Georgia dan beberapa bangsa lainnya. Meskipun mayoritas penduduk adalah bangsa Ossetia Selatan, Konstitusi Republik Otonom Ossetia Selatan mengakui bahasa Georgia sebagai bahasa minoritas dan terdapat jalur transportasi bus langsung yang menghubungkan ibukota kedua negara tersebut.  Akan tetapi, hubungan baik dengan Georgia tersebut ternyata tidak menjamin perdamaian. Ossetia Selatan justeru menjadi lokasi pertama terjadinya konflik di dalam wilayah Georgia. Pertikaian Georgia-Ossetia 1989-1991 menjadi pemicu terjadinya konflik antara bangsa Georgia dan bangsa Ossetia Selatan terkait klaim atas Tbilisi. Pada bulan September 1990 Ossetia Selatan mengumumkan kemerdekaannya sebagai negara republik namun pada bulan Desember tahun itu juga Pemerintahan Tertinggi Soviet di Georgia menolak proklamasi tersebut dan menghapuskan status otonomi Ossetia Selatan. Pertikaian kemudian berlangsung hingga bulan Juni 1992. Pada  tanggal 29 Mei 1992, bertempat di Sochi, dicapailah persetujuan gencatan senjata. Parlemen Ossetia Selatan memberlakukan deklarasi kemerdekaan yang baru yang menjadi landasan bagi negara merdeka secara de facto di wilayah bekas Uni Soviet. Selanjutnya, pada tanggal 4 April 1994 Georgia dan Abkhazia menandatangani kesepakatan Deklarasi Usaha Penyelesaian Politik mengenai konflik Georgia-Abkhazia dan menetapkan komitmen untuk melakukan pengawalan yang ketat terhadap gencatan senjata. Sebagai hasil dari kesepakatan itu ditetapkanlah zona keamanan demiliterisasi di sepanjang Sungai Inguri pada tanggal 14 Mei 1994. Dua tahun berselang, di dalam memorandum yang ditandatangani pada bulan Mei 1996, semua pihak berkomitmen untuk tidak mempergunakan kekuatan apapun di dalam hubungan bersama dan berusaha mencari cara untuk mencapai kesepakatan perdamaian yang sepenuhnya. 

Kesimpulan dari kesepakatan gencatan senjata tersebut menghasilkan stabilitas yang relatif di front Ossetia Selatan Georgia, yang bertahan hingga terpilihnya Saakashvili sebagai Presiden Georgia, yang secara agak drastis mengembalikan integritas wilayah Georgia dengan segala macam cara. Usaha Saakashvili tersebut diawali dengan mengadakan interaksi perdagangan dan ekonomi dengan Ossetia Selatan sebagai usaha untuk mewujudkan stabilitas ekonomi di wilayah tersebut. Langkah berikutnya adalah dengan memantapkan keamanan di wilayah tersebut pada tahun 2004 dengan slogan "anti-smuggling campaign" (kampanye anti-penyelundupan) yang, ternyata, justeru memancing kekecewaan Ossetia Selatan. Akhirnya pada bulan Agustus 2004 ketegangan muncul kembali dan bentrok antara kedua pihak menelan korban jiwa. Untuk menyelesaikan pertikaian tersebut maka diadakanlah kesepakatan gencatan senjata yang baru. Pada tanggal 12 November 2006 Ossetia Selatan mengadakan referendum untuk melepaskan diri dari Georgia. Hubungan "pertemanan" yang sedang-sedang saja antara Georgia dan Ossetia Selatan mulai terganggu sejak pemerintahan Saakashvili mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang kontroversial. 

Memburuknya hubungan antara Georgia dan Ossetia Selatan tidak dapat dilepaskan dari konteks perkembangan yang lebih luas antara Georgia dan Rusia. Kebijakan pro-barat yang dimaui oleh Saakashvili tidak disenangi oleh Rusia, yang mengecam keras penguatan hubungan antara Georgia dan NATO. Moskow menggunakan segala cara untuk menekan Georgia, termasuk larangan impor anggur dari Georgia pada tahun 2006 dan deportasi warga negara Georgia pada tahun 2007, sebagai usaha untuk menekan Georgia agar menjaga jarak hubungannya dengan Barat. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada awal tahun 2008 menjadi awal memburuknya kepercayaan antara Georgia dan Rusia. Pada bulan April 2008 Rusia menembak jatuh sebuah drone Georgia di wilayah udara Abkhazia. Pada bulan Juli tahun yang sama, saat berlangsung latihan militer, Georgia dan Amerika Serikat menyepakati Immediate Response 2008. Motif-motif politik yang melatarbelakangi dan bertambahnya ketegangan berujung pada rangkaian peristiwa berdarah pada bulan Agustus 2008. 

Referensi:
Jafarova E. (2014). Conflict Resolution in South Caucasus: Challenges to International Efforts. London, United Kingdom: Lexington Books. hal. 28-30.

Sunday, February 11, 2018

Sejarah Perkembangan Sepeda Motor Vespa

Keberadaan sepeda motor Vespa, yang dikenal sebagai scooter (orang Indonesia menyebutnya "sekuter") dapat ditelusuri sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua. Vespa boleh kita sebut sebagai salah satu trademark kendaraan bermotor Italia. Sekuter Vespa sangat populer bagi masyarakat Indonesia dari generasi ke generasi. Ialah pada tahun 1946, ketika Vespa untuk pertama kali diperkenalkan ke khalayak ramai di sebuah Klub Golf di kota Roma. Vespa tetap bertahan hingga memasuki usia produksinya yang ke-70. Berikut ini adalah rangkuman perjalanan penting secara kronologis dari keberadaan sekuter Vespa.
TAHUNPENJELASAN SINGKAT
1946Vespa memperkenalkan model Vespa 98 pada bulan April di sebuah klub golf di Kota Roma
1947Model kedua, Vespa 98 Corsa Circuito, diproduksi dengan kemampuan bersaing di dalam perlombaan balap motor. Enrico Piaggio, sang penggagas, termotivasi untuk membuat kendaraan yang agresif
Vespa 98 II Serie dipasarkan sejumlah 16.500 unit. Model ini menawarkan penyempurnaan yang signifikan dalam hal estetika maupun spesifikasi teknis
1949Pada tahun 1949 Vespa mengawali rancangan chassis dari bahan aluminium alloy yang biasa digunakan untuk pesawat terbang. Model ini dinamakan Vespa 125 Corsa "Alloy Frame"
Tak lama berselang, Piaggio meluncurkan Vespa 125cc ke luar negeri, khususnya Swiss
Menyusul kemudian, pada tahun yang sama, Vespa Circuito 125 aktif di dalam perlombaan balapan. Tujuan utama ikut perlombaan ialah untuk memperluas jaringan periklanan
1950Guna memperkenalkan citra sporty, Piaggio mengubah fokus untuk membuat rekor. Pada tanggal 7 April, bertempat di Sirkuit Monthlery, Prancis, Vespa membuat rekor baru dunia perlombaan 100, 500, dan 1000 mil
1951Dengan model Silurio (Torpedo), Vespa memecahkan rekor kecepatan. Momentum tersebut terjadi pada tanggal 9 Februari 1951. Model hasil rancangan Corradino D'Ascanio mencatat rekor 21,4 detik dalam jarak 1 kilometer dengan kecepatan rata-rata 171,1 km/jam)
Vespa 125 diproduksi kembali dengan teknologi dan estetika yang lebih sempurna. Model ini menjadi terkenal karena ikut "membintangi" film "Roman Holiday"
Masih pada tahun 1951, masyarakat dihadirkan oleh model baru, Vespa 125 "Six Days"
Vespa 125 U dipasarkan sebanyak 7.000 unit dan menjadi salah satu model yang saat ini paling banyak diburu oleh para kolektor
1955Hasil rintisan periode 1948-1949 direalisasikan pada tahun ini dalam bentuk Vespa 150 Sidecar. Model ini memiliki kemampuan untuk menempuh jarak yang jauh. Inovasi Sidecar kemudian disusul oleh model berikutnya, Vespa 150 GS. Model ini menjadi tonggak sejarah keberadaan Vespa karena dikenal sebagai sekuter yang paling indah yang pernah diproduksi
1956Satu dasawarsa setelah model pertama diperkenalkan, pabrik Pontedera berhasil mengukir sejarah dengan memasarkan kendaraan yang ke satu juta. Vespa 150 kemudian dipasarkan dalam tiga versi, yakni 125cc, 150cc, dan 150cc GS
Kementerian Pertahanan Prancis, atas lisensi Piaggio France (ACMA), berkeinginan untuk melakukan pengembangan kendaraan militer. Piaggio France merespon keinginan tersebut dengan memproduksi Vespa 150 T.A.P.
1957Tahun ini ditandai dengan munculnya Vespa 400. Untuk pertama kalinya Vespa memproduksi kendaraan beroda empat dengan mesin berada di bagian belakang. Vespa 400 diproduksi sebanyak 30.000 unit
1958Awal dari era mesin 125cc dengan dipasarkannya Vespa 125 (VNA2) yang menggunakan bodi yang terbuat dari dua lembar baja yang disambungkan (yang sekaligus berfungsi sebagai rangka)
1959Vespa meluncurkan seri Vespa 150 GS (Grand Sport) VS5 yang merupakan adaptasi dari VS1 yang diproduksi ada tahun 1951. Model ini memegang rekor jumlah produksi (80.000 unit)


Referensi:Vespa | vespa.com